Archive for April, 2009

h1

PENGARUH PELAYANAN PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES

27 April 2009

Ma’rifatun laela

ABSTRAK

Latar Belakang : Proses pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada bagian pendaftaran dan tidak didukung oleh sarana penunjang lainnya.

Tujuan Penelitian : Mengetahui Pengaruh Pelayanan Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates

Metode : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitas dengan pendekatan Cross Sectional. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien adalah kuesioner, Subyek penelitian adalah pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates yang berjumlah 100 Responden.

Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien di rumah sakit umum daerah wates berdasarkan analisa data korelasi Product Momen Pearson.

Kesimpulan : Memiliki pengaruh pelayanan yang sangat kuat dan bermakna tetapi tidak berhubungan (R=0,386).

Kata Kunci : Pelayanan, Pendaftaran, Kepuasan Pasien

A. Latar Belakang

Dalam garis-garis besar haluan negara (GBHN) dikatakan bahwa pembangunan kesehatan harus di upayakan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas hidup, taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Untuk mencapai tujuan yang sangat mulia itu segala upaya pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan dengan memperluas dan memeratakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam rangka mewujudkan amanat GBHN tersebut Departemen Kesehatan RI telah melakukan upaya-upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Salah satu upaya strategi yang sangat penting adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.

Rumah sakit umum daerah wates menurut sejarahnya adalah kelanjutan dari peninggalan Pemerintah Belanda, yang terletak di sebelah Barat alun-alun Wates. Setelah kemerdekaan, keberadaannya tetap dilestarikan hingga tahun 1963 ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kulon Progo. Saat ini kedudukan rumah sakit menjadi satu dengan Dinas Kesehatan Rakyat.

Sesuai dengan tuntutan jaman, Rumah Sakit Umum Daerah Wates berupaya mengembangkan diri dengan pindah kelokasi baru di dusun Beji Kecamatan Wates di Jalan Tentara Pelajar KM 1 No 5 Wates Kulon Progo. Pembangunan dan kepindahannya di resmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Suwardjono Suryaningrat pada tanggal 26 Februari 1963 dengan status kelas D.

Dasar hukum keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah Wates sebelum terbentuk masih menjadi bagian dari dinas kesehatan, dengan ketetapan Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 5 tahun 1982 dengan mencabut Perda Kabupaten Kulon Progo No. 6 tahun 1963 sesuai dengan Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 16 tahun 1994, kedudukan Rumah Sakit Umum Daerah Wates tetap sebagai UPTD. Pengelolaanya mulai diatur secara mendiri setelah terbitnya Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 22 tahun 1994 tentang pembentukan Rumah Sakit Umum Daerah Wates dan Perda kabupaten Dati II Kulon Progo No. 23 tahun 1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Sejak di terbitkannya dua peraturan daerah tersebut maka kedudukan rumah sakit umum daerah wates menjadi semakin mantap.

Rumah Sakit Umum Daerah Wates ditingkatkan kelasnya menjadi kelas C dengan di terbitkanya Surat Keputusan Menkes No. 491/SK/V/1994 tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Wates milik Pemerintah Daerah Tingkat II Kulon Progo menjadi kelas C. Upaya peningkatan rumah sakitumum daerah wates dalam pengelolaanya agar lebih mandiri terus diupayakan, salah satunya dengan mempersiapkan rumah sakit umum daerah wates menjadi unit swadana melalui tahap uji coba, maka baru di tetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Wates unit swadana melalui SK Bupati No. 343/200.

Proses pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada bagian pendaftaran dan tidak didukung oleh sarana penunjang pelayanan kesehatan seperti bagian apotik, bagian personalia, bagian logistik, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian penunjang pelayanan kesehatan yang lain. Dalam rumah sakit sarana pelayanan kesehatan dan sarana penunjang pelayanan kesehatan memiliki kedudukan yang sama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan.

Dalam memberikan pelayanan umumnya masyarakat mempunyai kesan pertama dalam menilai rumah sakit adalah penampilan dari pelayanan rawat jalan dan juga bagaimana kesan lamanya waktu yang di berikan oleh rumah sakit. Pada umumnya rumah sakit memberikan pelayanan kepada pasien yang datang sesuai dengan kemauannya dan bila distribusi waktu pelayanan tidak di ketahui maka akan menyebabkan waktu tunggu pelayanan lama, sehingga pelayanan di instansi rawat jalan dapat menyebabkan pasien tidak puas dan akan berakibat kunjungan pasien rawat jalan menurun ini berarti tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pelayanan rumah sakit yang bersifat strategis bagi rumah sakit karena mulai pasien datang ke loket harus mendaftar dan menulis nama pasien oleh petugas, pertama pasien datang kemudian mendaftarkan ke loket karcis, bagi pasien lama dengan menyerahkan kartu berobat dan karcis sedang pasien baru dengan menyerahkan karcis dan menginformasikan identitas pasien kepada petugas sehingga petugas dapat menulisnya dengan baik dan jelas setelah selesai di pendaftaran pasien disarankan langsung menunggu ke poliklinik yang di tuju dan menunggu di sana untuk diperiksa.

Konsep di atas menetapkan pentingnya mengetahui pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepusan pasien dari pelayanan yang telah diberikan. Kepusan pasien penting bagi pemasaran pada umumnya dan dianggap sebagai faktor penentu yang sangat berarti bagi peningkatan pengguna jasa berulang. Inti dari konsep ini merupakan konsep yang di harapkan untuk memasarkan jasa pelayanan kesehatan rumah sakit. Kepuasan pasien adalah konsep pemasaran yang baik dan menguntungkan bagi pemakai jasa berulang. Sehingga, bila tingkat kepuasan dapat terukur berarti dapat memberikan gambaran yang berarti tentang pengaruh pelayanan yang di berikan pengguna pelayanan atau pasien. Kepuasan pasien ini sangat penting karena pengalaman ini akan jadikan salah satu pertimbangan oleh pasien untuk menggunakan jasa layanan yang sama untuk masa yang akan datang.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Pengaruh Pelayanan Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates ?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepusan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

b. Diketahuinya kepuasan pasien pada pelayanan pendaftaran rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi bagi masyarakat mengenai pengaruh pelayanan pendaftaran terhadap kepuasan pasien.

2. Bagi Rumah Sakit

Dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk memperbaiki pelayanan pendaftaran dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan.

3. Bagi Peneliti

Bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta wawasan tentang pelayanan di rumah sakit yang dapat memuaskan pasiennya.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates Jalan Tentara Pelajar KM 1 No. 5 Wates Kabupaten Kulon Progo, sedangkan waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 08 Februari 2007 sampai dengan tanggal 11 Juli 2007.

F. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien sepengetahuan peneliti belum pernah di lakukan oleh peneliti lainnya. Penelitian sejenis yang pernah di lakukan sepengetahuan peneliti adalah Sri rahayu (2005). Analisis kepuasan pelanggan di poli rawat jalan di Klinik Nur Hidayah Bantul DIY. Perbedaannya adalah dalam penelitian ini memfokuskan penelitian di pelayanan dokter.

G. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitas yaitu jenis penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu.

1. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates, sebesar 5000 orang berdasarkan laporan jumlah data pasien rawat jalan tahun 2007. Sampel yang diambil ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling dan diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Kriterianya sebagai berikut :

a. Dapat membaca dan menulis

b. Pasien kunjungan pertama atau ulangan

c. Pasien anak, kuesioner diisi orang tua.

2. Variabel Penelitian

a. Variabel terikat ( variabel dependen )

Variabel terikat (Y) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepuasan pasien rawat jalan.

b. Variabel bebas ( variabel independen)

Variabel bebas (X) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit.

3. Teknik pengumpulan dan analisis data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Dalam penelitian ini analisis yang peneliti gunakan adalah :

a. Analisis Univariat

Analisis ini nanti akan menggunakan Statistik Deskriptif untuk menggambarkan pasien rawat jalan yang nantinya akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

b.Analisis Bivariat

Analisis dengan Regresi Linier sederhana adalah Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independent dengan satu variabel dependen (Notoatmodjo. S., 2002; 188).

Rumus regresi linier sederhana adalah :

Dimana :

Y = Subyek dalam variable dependen yang diperlukan

a = Nilai Y bila X= 0 (nilai konstan)

b =Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka independen. Bila b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan.

X = Subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu.

H. Daftar Pustaka

Bambang, Shofari, 2004, Pengantar Sistem Rekam Medis, Semarang.

Departemen Kesehatan RI, 1983, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta.

Fandi Tjiptono, 1996, Manajemen Jasa, Andi, Yogyakarta.

Jacobalis S. 1989. Menjaga Pelayanan Mutu di RS (Quality Assurance). Jakarta : Persi

Katz dan Jacqueline, M., 1997, Managing Quality Missouri: Mosdy.

Kotler, P., 1997, Manajemen Pemasaran: Analisis Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Jilid I Edisi 9, PT Prenhalindo, Jakarta.

Mc. Gibony, Jhon. R., 1997, Priciple of Hospital Administration, New York, GP. Putnam, Sons.

Melly, O., 1997, Ultimate Patient Satisfaction. New York: HFMA.

Parasuraman Zeithamel and Berry 1985. Conceptual Model of Service Quality and Its Simplications for Future Research Journal of Marketing Vol. 49, 41-50

Porter, E., 19985, Aspek-aspek yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Perusahaan, Jakarta: Rineka Cipta.

Profil RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo, 2007.

Riwidikdo, Handoko, 2006, Statistik Kesehatan, Yogyakarta : Mitra Cendikia Press.

Sabarguna, B., 2004, Pemasaran Rumah Sakit. Konsorsium RSI Jawa Tengah, DIY.

Silalahi, 1989, Rumah Sakit Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta.

Snock, 1991, Hospital What They Are Hair They Work, Aspen System Corporation, Rock Ville, Maryland, London.

Sugiyono, 1999, Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta

Suprapto J., 1997, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Rineka Cipta, Jakarta.

Woodside, Frey and Daly, 1989, “Linking Service Quality, Customer Satisfaction, and Behavioral Intention” Jurnal of Health Care Marketing, Vol. 9 No. 4.5-17.

Yulianto, 2000, Analisis Kepuasan Pasien di Instansi Rawat Jalan RSU Jendral Ahmad Yani Metro Lampung, Tesis, Yogyakarta: MMR-UGM.

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda

h1

PENGARUH KEPUASAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA

27 April 2009

Heni apriliyanti

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta”. Penelitian ini dilaksanakan di RSD Panembahan Senopati Bantul, jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo No.14 Bantul Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember tahun 2007. Rumah Sakit Daerah Panembahan Senopati Bantul merupakan rumah sakit kelas C dan merupakan rumah sakit milik pemerintah daerah kabupaten Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang kepuasan kerja dan prestasi kerja karyawan.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan uji statistik kuantitatif yaitu Regresi Linier Sederhana. Variabel yang diteliti adalah kepuasan kerja yang merupakan variabel yang mempengaruhi (independent), sedangkan variabel yang dipengaruhi (dependent) adalah prestasi kerja karyawan di RSD Panembahan Senopati.

Hasil yang diperoleh setelah melakukan analisis data dengan menggunakan uji validitas adalah dari 20 butir pertanyaan yang diajukan ternyata semua butir pertanyaan yang diajukan valid, sehingga butir pertanyaan yang diajukan untuk proses penelitian adalah sebanyak 20 butir pertanyaan. Hasil penelitian yang sesungguhnya adalah ada pengaruh kepuasan kerja terhadap prestasi kerja karyawan di RSD Panembahan Senopati.

Kata Kunci : Kepuasan kerja, Prestasi kerja, Karyawan

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda


h1

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN AKSEPTOR KB DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) DI RSU PANDAN ARANG BOYOLALI TAHUN 2007

27 April 2009

Endang sulistiyani

ABSTRAK

Pelayanan KB yang berkualitas mencakup pemberian jaminan pelayanan yang dapat melindungi klien dari resiko, efek samping dan komplikasi serta meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan pemakaian kontrasepsi.

Pelaksanaan program Keluarga Berencana di Kabupaten Boyolali secara Nasional sudah berjalan 35 tahun. Namun masih banyak calon akseptor KB mengalami kesulitan di dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Berbagai faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping, konsekuensi kegagalan akan kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan akskeptor KB dalam memilih alat Kontrasepsi Dalam Rahim di RSU Pandan Arang Boyolali.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptik analitik dengan rancangan penelitian Cross Sectional dengan lokasi penelitian di RSU Pandan Arang Boyolali. Responden adalah ibu yang menggunakan alat kontrasepsi di RSU Pandan Arang Boyolali sebanyak 60 responden. Pengumpulan data dengan cara kuesioner, analisa data dengan mengelompokkan jawaban responden sesuai item, yang disajikan dalam bentuk tabel.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor umur, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dukungan keluarga, tarif layanan tidak mempunyai hubungan yang mempengaruhi akseptor KB untuk memilih metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim.

Kata Kunci : Akseptor, KB, AKDR, Rumah Sakit Umum.

A. Latar Belakang

Pelaksanaan program KB secara umum di Kabupaten Boyolali yang sejak tahun 2004 telah menjadi badan daerah, dan telah melaksanakan upaya-upaya yang bermakna untuk meningkatkan kualitas akses dan pelayanan lebih aman, terjangkau biayanya, lebih mudah diakses oleh klien dan adanya jaminan ketersediaan alat / obat kontrasepsi yang berkualitas. Hal ini sesuai dengan visi baru program KB nasional tahun 2007 seluruh keluarga di Indonesia mengikuti program KB, dengan mewujudkan visi yaitu “Mewujudkan Keluarga Berkualitas 2015”, salah satu misi yang dijalankan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah mewujukan kelurga kecila bahagia sejahtera.

Jaminan dan pelayanan kontrasepsi tidak lagi berorientasi pencapaian kuantitas atau memaksimalkan akses dan cakupan peserta program KB, tetapi terus berupaya dan berorientasi pada pemenuhan permulaan pelayanan berkualitas yang dapat diberikan secara maksimal. Pelayanan KB yang berkualitas mencakup pemberian jaminan pelayanan yang dapat melindungi klien dari resiko dan efek samping dan komplikasi serta meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan pemakaian kontrasepsi.

Pelaksanaan pelayanan program KB, senantiasa dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi, serta selalu memperhatikan kesehatan dan kesetaraan gender sebagai salah satu upaya pemenuhan hak-hak reproduksi kepada masyarakat.

Memperhatikan hal-hal tersebut, maka operasional / pelaksanaan progam KB perlu dikelola secara lebih serius, profesional dan berkesinambungan sehingga upaya-upaya tersebut dapat memberi kepuasan bagi semua pihak baik klien maupun pemberi pelayanan (provider) yang pada akhirnya akan meningkatkan kesertaan masyarakat dalam ber KB, terhindar dari masalah kesehatan, reproduksi, meningkatnya kesejahteraan keluarga.

Dalam ICPD (Internationale Conference on Population and development) Kairo 1994, disebutkan bahwa salah satu tujuan program keluarga berencana yaitu membantu pasangan dan individu untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab tentang jumlah dan jarak antara satu anak dengan anak lainnya dan untuk mendapatkan informasi dan sarana dalam melakukannya, juga untuk memberi kebebasan serta ketersediaan berbagai macam alat kontrasepsi yang aman dan sehat.

Pelaksanaan program KB di Kabupaten Boyolali seiring dengan perjalanan program KB secara nasional dan sudah berjalan lebih 35 tahun. Namun masih banyak calon akseptor KB mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidak tahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, termasuk status kesehatan, efek samping, konsekuensi kegagalan akan kehamilan yang tidak diinginkan, besar keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua. Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien, karena masing-masing mempunyai kesesuaian dan kecocokan individual bagi setiap klien. Namun secara umum persyaratan metode kontrasepsi ideal adalah sebagai berikut : aman, yaitu tidak akan menimbulkan komplikasi berat bila digunakan, berdaya guna, bila digunakan sesuai dengan aturan akan dapat mencegah terjadinya kehamilan, dapat diterima, bukan hanya oleh klien melainkan juga oleh lingkungan budaya dan masyarakat, terjangkau harganya oleh masyarakat, bila metode tersebut dihentikan klien akan segera kembali kesuburuannya, kecuali untuk kontrasepsi mantap (Panduan Praktis, 2003).

Salah satu metode kontrasepsi yang banyak digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau lebih dikenal dengan IUD (Intra Uterine Device). AKDR adalah alat kotrasepsi yang terbuat dari plastic halus berbentuk spiral atau bentuk lain yang dipasang didalam rahim (Depkes RI, 1990). Keuntungan dari AKDR adalah praktis, ekonomis, mudah dikontrol, aman untuk jangka waktu yang lama dan kembalinya kesuburan cukup tinggi, tidak dipengaruhi oleh faktor lupa seperti Pil (Mardiya, 1999). Adapun kerugiannya adalah dapat terjadi perdarahan (Spotting dan menometrorangie), leocorea, infeksi, kehamilan ektopik, dan tali AKDR dapat menimbulkan perlukaan presio dan mengganggu hubungan seksual (Manuaba, 1998).

Beberapa faktor dapat mempengaruhi seorang ibu dalam memilih alat kontrasepsi dalam rahim, diantaranya : tingkat pendidikan, pengetahuan, lingkungan, ekonomi, kebutuhan, tarif pelayanan, keluarga, oleh karena itu tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) yang lebih efektif kepada calon akseptor KB, dan juga dapat memberikan asuhan kebidanan kepada ibu khususnya dalam pelayanan alat-alat kotrasepsi dalam rahim secara professional. Berdasarkan survei pendahuluan jumlah akseptor KB di Kabupaten Boyolali sebanyak 547 orang, antara lain IUD 66 orang (12,06 %), suntik 130 orang (23, 76 %), MOW 211 orang (38,57 %), dan pil 140 orang (25,59 %). (Rekapitulasi KB Bidan RSU Pandan Arang, Boyolali)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan tindakan akseptor KB dalam memilih alat kontrasepsi dalam rahim di RSU Pandan Arang, Boyolali ?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan akseptor KB dalam memilih alat kontrasepsi dalam rahim di RSU Pandan Arang, Boyolali.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui hubungan umur responden dengan tindakan memilih AKDR

b. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan responden dengan tindakan memilih AKDR.

c. Mengetahui hubungan pekerjaan responden dengan tindakan memilih AKDR.

d. Mengetahui hubungan penghasilan responden dengan tindakan memilih AKDR.

e. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tindakan memilih AKDR.

f. Mengetahui hubungan tarif layanan dengan tindakan memilih AKDR.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut :

1. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan

Diharapkan penelitian ini dapat berguna dan memberi sumbangan, menambah informasi juga menambah khasanah ilmu pengetahuan.

2. RSU Pandan Arang, Boyolali

Sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan dan memberikan pelayanan keluarga berencana kepada WUS dan PUS

3. Bagi petugas KB

Sebagai bahan kebijakan untuk melakukan penyuluhan.

4. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan dan pengalaman dalam menyusun karya tulis ilmiah dan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut serta sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang telah diperoleh.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan di Poliklinik di Bidang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana) di RSU Pandan Arang, Boyolali. Bulan Agustus 2007

F. Keaslian Penelitian

Penelitian dengan judul ”Faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan akseptor KB dalam memilih alat kontrasepsi dalam rahim di RSU Pandan Arang, Boyolali“ sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan. Adapun penelitian yang pernah ada diantaranya;

Penelitian mengenai AKDR yang pernah dilakukan, diantaranya :

1. Hubungan antara pemakaian AKDR dengan kehamilan extopik di RS Sardjito Yogyakarta tahun 1988 / 1992. Budi Santoso, Natalia (1993)

2. Evaluasi Keputusan Pemilihan Kontrasepsi Pada Akseptor KB di RSU Pandan Arang, Boyolali. Soniatun Nikmah (2005)

G. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian diskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional untuk mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan responden atau akseptor KB dalam memilhi AKDR. Data primer diambil melalui wawancara dengan ibu hamil menggunakan kuesioner. Hasil penelitian diuji secara statistik dengan tehnik tabulasi silang (Crosstab) analisa data dengan uji korelasi koefisien kontingensi Chi Square .

1. Populasi dan sampel

Populasi penelitian ini adalah ibu-ibu yang akan melakukan atau menggunakan alat kontrasepsi yang datang di Rumah Sakit Pandan Arang, Boyolali, Jawa Tengah, sejumlah 100 aseptor KB pada Agustus 2007.

Sampel yang diambil ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling dan diperoleh sampel sebanyak 60 orang.

2. Variabel Penelitian

a. Variabel terikat ( variabel dependen )

Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan memilih AKDR

b. Variabel bebas ( variabel independen)

Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dukungan keluarga, tarif layanan.

3. Teknik pengumpulan dan analisis data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor KB dalam memilih AKDR kepada ibu yang akan memasang atau memilih alat kontrapsepsi di Rumah Sakit Pandan Arang, Boyolali, Jawa Tengah.

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah menggunakan uji crosstab, dianalisa secara deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik. Sebelum digunakan teknik crosstab, data terlebih dahulu diuji dengan uji validitas dan reliabilitas.

H. Daftar Pustaka

Arikunto, S. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta

Anonim. 1993. Panduan Pelatihan MKET Bagi Dokter dan Bidan Khususnya Pelayanan Implant dan IUD. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta.

Affandi, B. 2003. Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi. Jakarta

Azwar, S. 1995. Sikap Manusia teori dan Pengukurannya (Edisi Kedua) Cetakan Pertama. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.

BKKBN, 1999. Iformasi Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta

BKKBN, 1999. Panduan Pelaksanaan Jaminan Mutu Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta

BKKBN, 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta

Budiarto. 1992. Biostatistik untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, EGS. Jakarta.

Depkes, 2001. Panduan Buku Klinis Program Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta

Hadi, S. 1987. Statistik Jilid 2. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Jogjakarta.

Hartanto. 1992. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

IBI, 1994. Pedoman Keluarga Berencana Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta

Manuaba, E.B.G. 1998. Ilmu Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.

Mardiyo. 1999. Sebuah Pedoman Bagi PUS yang Ber-KB dalam petunjuk Praktis Cara Memilih Kontrasepsi. Liberty. Jogjakarta.

Notoadmojoo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

___________, S. 2003. Pendidikan Perilaku Kesehatan. Rineka cipta. Jakarta

PKBI. 1999. Panduan Pelayanan Kesehatan Reproduksi. PKBI. Jakarta.

Prawirahardjo, S. Dkk. 2003. Buku Panduan Prakstis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina Aksara. Jakarta.

Saifuddin, AB. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta

Sugioyono. 2005. Statistik untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung

Tombokan. 2002. Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Ibu Hamil Tentang Tentang Tanda Bahaya Kehamilan di Puskesmas. (Karya Tulis Ilmiah). UGM. Jogjakarta. Tidak diterbitkan

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda

h1

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM PEMBERIAN ASI PADA IBU PRIMIGRAVIDA DI RSU PANDAN ARANG BOYOLALI

27 April 2009

Oleh : Isminarsinah

ABSTRAK

Latar Belakang Masalah ; ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan alamiah yang ideal untuk bayi, terutama pada bulan-bulan pertama. Memberikan makan bayi dengan ASI bukan hanya memberinya awal kehidupan yang sehat dan bergizi, tetapi juga merupakan cara yang hangat, penuh kasih dan menyenangkan. Ia merasa aman, terlindung dan disayangi (Welford, 2001). Manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi diantaranya sebagai nutrisi terbaik, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, meni gkatkan jalinan kasih sayang. Sungguh menyedihkan bahw asemkain lama semakin banyak wanita yang tidak menyusui bayinya sendiri. Dalam suatu penyelidikan yang dilakukan di Cardiff, ternyata setelah hari yang ke tujuh dari masa nifas hanya ada 33% wanita yang menyusui bayi-bayinya (Tjahyono, 1978). Sebab-sebab dari keengganan menyusi ini telah dipelajari, tetapi belum didapatkan penjelasan yang pasti.

Metode Penelitian ; deskriptif analitik pendekatan observasi, yaitu untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang menpengaruhi dalam pemberian ASI pada ibu primigravida di RSU Pandan Arang Boyolali. Pen gumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner dan menggunakan data rekam medis ibu primigravida. Jumlah responden 52 orang.

Hasil Penelitian ; Ibu primigravida pada saat memberi ASI kebanyakan umur dewasa (20-30 tahun), dengan tingkat pendidikan sedang (SLTP dan SMA), pekerjaan swasta atau tidak tetap, dan penghasilan sedang ke bawah (rendah). Umur mempengaruhi ibu primigravida dalam apemberian ASI (p < a 0.05). Tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan tidak mempengaruhi ibu primigravida dalam pemberian ASI (p > a 0.05).

Kata kunci : Pemberian Asi, Ibu Primigravida

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, permasalahan pokok penelitian ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan : Adakah faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian ASI pada Ibu primigravida di RSU Pandan Arang Boyolali”

C. Tujuan

1. Umum

Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian ASI pada Ibu primigravida di RSU Pandan Arang Boyolali.

2. Khusus

a. Mengetahui karakteristik responden sesuai umur, pendidikan pekejaan dan penghasilan.

b. Mengetahui umur responden terhadap pemberian ASI bagi bayi.

c. Mengetahui tingkat pendiudikan responden terhadap pemberian ASI bagi bayi.

d. Mengetahui pekerjaan respopnden terhadap pemberian ASI bagi bayi

e. Mengetahui penghasilan responden terhadap pemberian ASI bagi bayi

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

1. Dinas Kesehatan dan Sosial Kabuypaten Boyolali dalam menentukan program-program meningkatkan pemberian ASI kepada bayi

2. Bagi ibu hamil agar dapat menjadi pedoman dalam memberikan ASI nantinya pada anak yang dilahirkan nanti

3. Bagi Rumah Sakit Pandan Arang mencoba masukan dalam membuat kebijakan mengenai program ASI terutama di bangsal perinatal maupun bangsal kandungan

4. Bagi peneliti, untuk dapat lebih lanjut memberikan gambaran terhadap cakupan pemberian ASI di RSU Pandan Arang Boyolali.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang kesehatan Ibu dan anak (KIA) dengan menitik beratkan pada faktor-faktor yang berpengaruh pada ibu primigravida dalam pemberian ASI.

Penelitian dilakukan di RSU Pandan Arang Boyolali pada bulan Agustus sampai dengan November 2007.

F. Keaslian penelitian

Penelitian dengan judul ” Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Pemberian Asi Pada Ibu Primigravida Di Rsu Pandan Arang Boyolali” sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan. Sedangkan Penelitian yang pernah ada diantaranya :

1. Penelitian terhadap 900 Ibu disekitar Jabotabek (1995) diperoleh fakta yang dapat memberi ASI terutama ASI Ekslusif selama 4 bulan hanya sekitar 5%m karena 98% Ibu-ibu tersebut tidak dapat informasi khususnya tentang Asi.

2. Hubungan informasi tentang ASI kaitannya dengan apemberian ASI eksklusif di Jabitabek. (Roeslu (2000)

3. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia tahun 1997 oleh Budi Lestari (2006)

Menyimpulkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia tahun 1997 mencapai 52%, keadaan ini belum memenuhi target cakupan ASI eksklusif tahun 2000 adalah 80%

Berdasarkan survey pendahuluan dilaksanakan di RSU Pandan Arang Boyolali di Poli Kebidanan dan kandungan di dapat pada periode bulan Januari sampai dengan Juni 2007 yang kunjungan pasien Ibu hamil primigravida sebanyak 183 orang dan dimana 72% Ibu primigravida masih banyak yang belum tahu tentang manfaat ASI untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian ASI pada ibu primigravida di RSU Pandan Arang Boyolali.

G. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian diskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional untuk mendapatkan gambaran tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian ASI pada ibu primigravida.

Sampel yang digunakan adalah ibu hamil primigravida yang memeriksakan / periksa di Poli Kebidanan dan Kandungan RSU Pandan Arang Boyolali pada tanggal 6 Agustus sampai dengan 29 September 2007. Jumlah sampel atau responden sebanyak 52 orang.

1. Variabel Penelitian

a. Variabel terikat ( variabel dependen )

Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemberian ASI

b. Variabel bebas ( variabel independen)

Variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat penghasilan.

2. Teknik pengumpulan dan analisis data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner mengenai. faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemberian asi pada ibu primigravida di rsu pandan arang boyolali

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah menggunakan uji crosstab, dianalisa secara deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik. Sebelum digunakan teknik crosstab, data terlebih dahulu diuji dengan uji validitas dan reliabilitas.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul A, 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika, Jakarta

Anonim, 2006. Profil Rumah Sakit Umum Pandan Arang Boyolali. RSU Boytolali

Azwar R., 2002. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binara Aksara. UI. Jakarta

Lestari Budi, 2006. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Tesis UGM. Yogyakarta.

Manuaba I.N.M., 1998. Demografi Umum, cetakan I. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Nasution, S., 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Notoadmodjo, S., 2002. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-Prinsip Dasar, Rineka Cipta. Jakarta.

Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian ilmu Keperawatan Peedoman Skripsi Tesis dan Isntrumen Keperawatan. Salemba. Jakarta.

Roesli S., 2000. Hubungan Informasi tentang ASI kaitannya dengan Pemberian Asi Eksklusif. Skripsi. UI. Jakarta.

Singgih S., 2002. Buku Latihan SPSS Statistik Parametik. Jakarta : Elex Media Komputindo.

Soekamto, N., 2002. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Sugiyono. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Alfa Beta Bandung.

Arikunto, S., 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta Jakarta.

Paath, EF, Ramdasik Yuyun, Heriyati, 2002. 6121 dalam Kesehatan Reproduksi. Monika Escen. Jakarta.

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda

h1

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN PELANGGAN DI LABORATORIUM BALAI BESAR TEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR ( BBTKL PPM ) YOGYAKARTA

27 April 2009

Murwani

ABSTRAK

Kepuasan pelanggan adalah suatu tindakan atau respon dari pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan sekurang – kurangnya sama atau lebih dari yang diharapkan sehingga pelanggan merasa senang / puas. Tetapi sebaliknya, jika pelanggan kecewa, mereka akan membicarakannya kepada orang lain yang lebih banyak. Sedangkan ketidakpuasan timbul apabila terjadi alternatif yang dipilih tidak sesuai / memenuhi harapan pelanggan.Beberapa aspek yang berhubungan dengan kepuasan pelanggan antara lain meliputi tarif / harga jasa pelayanan dan ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara tarif / harga jasa pelayanan dan ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji terhadap kepuasan pelanggan. Populasi penelitian adalah 179 responden dan sampel penelitian adalah 37 responden yang dipilih secara random diantara 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bersedia dijadikan subjek penelitian yang sekurang – kurangnya telah menggunakan jasanya di laboratorium BBTKL PPM Yogyakarta dalam kurun waktu satu tahun telah lima kali.Variabel terikat adalah kepuasan pelanggan. Variabel bebasnya tarif / harga jasa pelayanan dan ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji yang masing – masing variabel dinilai berdasarkan skor dengan panduan kuesioner. Analisis statistik data menggunakan SPSS 10.0 for Windows dengan uji Chi Square untuk menguji hipoteisnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara tarif / harga jasa pelayanan terhadap kepuasan pelanggan ( P = 0,043 ), ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji terhadap kepuasan pelanggan ( P = 0,004 ). Korelasi antara tarif / harga jasa pelayanan positif dan ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji juga positif.

Kata kunci : Kepuasan pelanggan, Tarif / harga jasa pelayanan, Ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji.

A. Latar Belakang

Dengan maraknya dunia usaha yang semakin pesat dewasa ini, maka sangat dirasakan persaingan-persaingan yang begitu tajam. Oleh karena itu, dalam setiap kantor pemerintah maupun swasta atau perusahaan dibutuhkan adanya kelancaran kerja, sehingga pelayanan atau servis dapat diberikan dengan memuaskan kepada pelanggannya. Suatu perusahaan jasa dalam hal ini laboratorium, agar dapat eksis dalam arti selalu diakui dan bermanfaat serta dipergunakan jasanya oleh pelanggan haruslah memperhatikan hasil jasa yang dikehendaki pelanggan (Tjiptono F, 1997). Bahkan Levitt dalam Tjiptono, F (1997) mengatakan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu lembaga penghasil jasa agar tetap sukses dalam persaingan adalah menciptakan dan mempertahankan pelanggan, akan tetapi ada beberapa faktor yang berpengaruh pada keadaan ini antara lain terbatasnya fasilitas peralatan baik jenis maupun jumlahnya termasuk bahan baku standar, personil baik jumlahnya maupun bidang keahliannya dari setiap individu yang berbeda, serta keterbatasan dana operasional dan dana pemeliharaan peralatan laboratorium.

Aritonang LR (2005) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah sangat penting bagi suatu perusahaan, karena berkaitan dengan persaingan dan tingkat kerugian maupun keuntungan dari perusahaan tersebut, disamping itu kesetiaan pelanggan sangat sulit dipertahankan. Sedangkan Bapelkes (2005) menyatakan bahwa dalam rangka mempertahankan pelanggan diperlukan suatu tindakan rutinitas yang meningkat, bagaimana karyawan melayani pelanggan sehingga dibutuhkan kinerja karyawan yang baik, pengetahuan yang luas serta sikap dari penjual jasa yang ramah. Sejalan dengan hal ini, Morgan, R. L ( 2003 ), mengatakan jika suatu perusahaan mempunyai reputasi yang baik, cepat dan sopan dalam menanggapi berbagai keluhan pelanggan, maka pelanggan akan lebih cenderung berbicara secara rasional. Demikian sebaliknya pelanggan yang tidak puas akan menceritakan pengalamannya kepada orang lain, yang mana orang lain tersebut juga akan menceritakannya kepada orang lain lagi yang lebih banyak.

Hasil penelitian Wahyudi ( 2000 ) tentang Kualitas Jasa Pelayanan Menurut Persepsi Para Pengguna Jasa dan Karyawan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Yogyakarta belum memenuhi harapan, serta terdapat perbedaan persepsi yang bermakna antara pengguna jasa dan karyawan.

Bertitik tolak dari penelitian di atas, menunjukkan bahwa pelayanan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta kurang memperhatikan kepuasan dari pelanggan, dan mengingat Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta dikenal sebagai laboratorium lingkungan yang handal di wilayah Yogyakarta bahkan merupakan laboratorium rujukan untuk Yogyakarta dan Jawa Tengah , maka sangat dibutuhkan pelayanan yang betul-betul memenuhi harapan bagi para pelanggannya.

Belum memenuhinya kualitas pelayanan serta terdapatnya perbedaan yang bermakna, antara pengguna jasa dan karyawan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan ( BTKL ) Yogyakarta, kemungkinan kurang dipenuhinya 4 (empat) aspek yang saling terkait dan menjadi dasar kualitas pelayanan, untuk memperhatikan serta mempertahankan kepuasan dari pelanggan, yaitu dengan memperhatikan keahlian mencari pelanggan, keterampilan seorang karyawan dalam memecahkan suatu masalah, serta kemampuan seseorang memuaskan kebutuhan dalam mencari pelanggan sebelum dan sesudah penjualan jasa dari suatu produk, (Schaaf.D & Kaiter M, 1999).

Dalam hal ini sangat sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta, adalah menyangkut pelayanan umum, khususnya pada pemecahan masalah di bidang kesehatan lingkungan. Yang dimaksud dengan pelayanan umum di sini adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara / Daerah dalam bentuk barang dan jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keberhasilan maupun kinerja Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, antara lain dapat diukur dari sejauh mana keberadaan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta tersebut, dapat memenuhi harapan dan kebutuhan jasa pelayanannya oleh masyarakat, dan sejauh mana manfaatnya bagi masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, masalah yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah “faktor – faktor apa sajakah yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan di laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta?”

C. Tujuan Penelitian

Pada umumnya setiap kegiatan yang dilakukan selalu didasarkan atas seperangkat tujuan yang hendak dicapai.

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam skripsi ini adalah:

  1. Tujuan umum

Secara umum untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan di laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta.

  1. Tujuan khusus:

1. Untuk mengetahui pengaruh tarif / harga jasa pelayanan terhadap kepuasan pelanggan

2. Untuk mengetahui pengaruh ketepatan waktu penyerahan sertifikat hasil uji terhadap kepuasan pelanggan

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Manfaat Bagi Obyek Penelitian

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta, guna menyempurnakan kebijakan-kebijakan tentang pelayanan.

  1. Manfaat Bagi Penulis

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan peneliti dapat memahami lebih dalam akan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan dan dapat menjadi salah satu sumber referensi tentang kepuasan pelanggan .

  1. Bagi Masyarakat / pelanggan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tolok ukur tentang kepuasan pelanggan.

  1. Bagi Kepustakaan

Dari penelitian ini, dapat menambah referensi, informasi, pengetahuan ilmiah tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan di laboratorium, dan dapat dipakai sebagai bahan perbandingan antara teori dan praktek.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti mengambil tempat di Laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta, yang beralamat di Jl. Wiyoro Lor, Baturetno, Banguntapan, Bantul 55197 pada awal bulan Juni sampai dengan akhir bulan Juli 2007.

F. Keaslian Penelitian

Berdasarkan sepengetahuan penulis belum ada penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan di laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta.

Penelitian serupa yang telah dilakukan adalah:

Analisis Kualitas Jasa Pelayanan Menurut Persepsi Para Pengguna Jasa dan Karyawan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan ( BTKL ) Yogyakarta (Wahyudi.S, 2000).

G. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan rancangan Cross Sectional, yaitu suatu metode yang didasarkan pada pengambilan data di saat tertentu dan bersama-sama, baik variabel bebas maupun variabel terikat, agar data yang didapat sesuai apa adanya.

1. Populasi dan sampel

Populasi yang diteliti adalah para pelanggan ( pengguna jasa ) di laboratorium BBTKL PPM Yogyakarta, dengan ketentuan sekurang-kurangnya telah lima kali dalam kurun waktu satu tahun menggunakan jasa pelayanan, dan terbatas yang berdomisili di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). Adapun hasil dari pencatatan di bagian Instalasi Pelayanan Teknis didapatkan sebanyak 179 pelanggan. Sampel yang diambil ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling dan diperoleh sampel sebanyak 37 orang.

2. Variabel Penelitian

Variabel terikat, kepuasan pelanggan

Variabel bebas, meliputi: tarif / harga jasa pelayanan dan ketepatan waktu penyerahan Sertifikat Hasil Uji.

3. Teknik pengumpulan dan analisis data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta. Setelah terkumpul, dilakukan pengujian kuesioner yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas.

Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara Kepuasan pelanggan, Tarif/harga jasa pelayanan dan Ketepatan Waktu penyerahan sertifikat hasil uji, digunakan program SPSS dengan analisis Chi Square dan hasil dari penelitian ini diajukan kriteria P lebih kecil ( < ) dari tingkat signifikansi yang ditetapkan ( 0,05 ), maka Hipotesis nol ( Ho ) ditolak / signifikan dan apabila P lebih besar ( > ) dari tingkat signifikansi yang ditetapkan ( 0,05), maka Hipotesis nol ( Ho ) diterima / tidak signifikan.

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda

h1

HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DENGAN GANGGUAN KESEHATAN PERAWAT DI IRD RSUP DR.SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

27 April 2009

Basuki

ABSTRAK

Perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Darurat sangat rentan terhadap stres. Stres kerja yang dialami perawat akan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Seorang perawat membutuhkan kesehatan yang prima untuk mengatur suasana hati dan mengendalikan stres, bertahan sehingga memungkinkan bekerja dengan produktif (secara sosial, fisik dan psikologis).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan gangguan kesehatan kerja perawat di Instalasi Rawat Darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik korelasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross sectional. Data tingkat kecerdasan emosional dan tingkat stres kerja responden dikumpulkan dengan kuesioner. Subyek penelitian berjumlah 20 orang perawat Instalasi Rawat darurat dengan kriteria : tidak sedang dalam masa cuti atau mendapat tugas belajar, bersedia menjadi responden, dan bukan kepala ruang. Penelitian dilakukan mulai tanggal 3 April 2008 sampai 10 April 2008.

Rata-rata tingkat stres kerja perawat dalam kategori sedang 75% responden, dan rata-rata tingkat gangguan kesehatan dalam kategori tinggi 70% responden. Uji hipotesis menggunakan Spearman Rank dengan tingkat kepercayaan 95% atau a = 0,05. Hasil perhitungan didapatkan r = 0,378 dan p = 0,100.

Tidak ada hubungan yang signifikan dan bermakna antara tingkat stress kerja dengan gangguan kesehatan perawat di Instalasi Rawat Darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

Kata Kunci :

Stres kerja, Gangguan Kesehatan, Instalasi rawat Darurat

A. Latar Belakang

Pelayanan dan pertolongan kasus gawat darurat di Rumah Sakit dewasa ini semakin meningkat jumlahnya sebagai akibat dari modernisasi hasil pembangunan, sarana pengangkutan, kepadatan penduduk, lingkungan pemukiman serta kemajuan teknologi di segala bidang. Banyak masalah yang harus di hadapi, baik dari keluarga pasien, beban kerja berlebihan dan harus lebih giat untuk keselamatan pasien, kadang mengalami tekanan dan ketidakpastian. Situasi inilah yang sering memicu terjadinya stres kerja (e-psikologi.com, 2007).

Stres yang berkaitan dengan pekerjaan hampir menyentuh setiap orang. Beberapa jenis pekerjaan penuh dengan stres karena sifat dasarnya mempunyai andil yang besar terhadap timbulnya gangguan kesehatan. Jenis pekerjaan ini misalnya, pengatur lalu lintas udara, polisi, perawat ruang gawat darurat, paramedis dan pemadam kebakaran (Ardan, 2006).

Penelitian dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menetapkan perawat sebagai profesi yang beresiko sangat tinggi terhadap stress (Schultz dan Schultz, 1994) hasil penelitian selye (1996) menunjukkan alasan mengapa profesi perawat mempunyai resiko yang sangat tinggi terpapar oleh stres adalah karena perawat memiliki tugas dan tanggungjawab yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu ia juga mengungkapkan pekerjaan perawat mempunyai beberapa karakteristik yang dapat menciptakan tuntutan kerja yang tinggi dan menekan. Karakteristik tersebut adalah otoritas bertingkat ganda, heterogenitas personalia, ketergantungan dalam pekerjaan dan spesialisasi, budaya kompetitif di rumah sakit, jadwal kerja yang ketat dan harus siap kerja setiap saat. Serta tekanan–tekanan dari teman sejawat. Hasil penelitian numerof dan abramis (dalam bery) menyatakan bahwa perawat di instalasi perawatan intensif dan unit gawat darurat memiliki tingkat stres lebih tinggi dibanding dengan perawat di unit lain.

Stres kerja yang dihadapi oleh perawat akan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien (Robin, 1998) sedangkan menurut penelitian Baker. dkk (1998) stres yang dialami seseorang akan merubah cara kerja system kekebalan tubuh. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering mudah terserang penyakit yang cenderung lama penyembuhannya karena tubuh tidak banyak memproduksi sel–sel kekebalan tubuh ataupun sel–sel antibodi banyak yang kalah. Kesehatan dan efektifitas kerja karyawan karena memiliki efek pada aspek fisik dan psikologis.

Hasil dari penelitian Tyas (2006) menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat empati pada perawat di instalasi rawat inap RSUD kota yogyakarta. Berdasarkan hasil riset PPNI (2006) bahwa 50,9% perawat Indonesia yang bekerja di empat provinsi mengalami stres kerja sering pusing, lelah, tidak ada istirahat karena beban kerja terlalu tinggi dan menyita waktu, gaji rendah dan insentif yang tidak memadai.

Instalasi rawat darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sebagai pintu gerbang pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang memiliki tenaga perawat 21 orang terdiri dari 19 orang pegawai tetap dan 2 orang perawat kontrak, dengan jumlah perawat tiap shiftnya 4 orang kecuali shift pagi ditambah 1 orang kepala ruang, 1 orang pembimbing klinik, 1 orang penanggungjawab logistik dan 2 orang sedang menjalani tugas belajar. Setiap bulan rata-rata menangani pasien 1600 kasus pasien atau 53 kasus pasien dalam satu hari mulai dari tingkat gawat sampai sangat gawat (Sumber data catatan medik RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, 2007).

Hasil studi pendahuluan pada tanggal 11 januari 2008 yang dilakukan peneliti melalui wawancara kepada 16 perawat instalasi rawat darurat, mereka memberikan jawaban bahwa secara umum semua mengetahui istilah stress kerja. Kemudian 8 orag dari 16 orang menyadari bahwa pekerjaan perawat merupakan sebuah pekerjaan yang berisiko terhadap timbulnya rasa stress. Namun demikian hanya 7 orang yang benar-benar menyadari bahwa dengan adanya stres kerja dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Ini bisa ditunjukkan dengan hasil kritik dan saran tentang prestasi kerja dan Asuhan keperawatan yang menurun (koordinasi kepala ruang 2008) penurunan kualitas hubungan interpersonal 10% pindah tugas 20% memendam perasaan 10%, ketegangan kerja 10% (Data IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten).

Merujuk dari faktor-faktor diatas seperti belum sepenhunya rumah sakit memberikan rasa aman, dan nyaman, mereka mengelu dan mengatakan bahwa saat ini stres kerja yang dialami perawat instalasi rawat darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sangat tinggi akibat banyaknya pasien dan tindakan yang harus ditangani dan keadaan ini tidak diimbangi dengan penambahan staf tenaga perawat, karena berdasar rumus Depkes 2002, dan penghitungan tenaga dari bidang perawatan yang disesuaikan dengan kondisi IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten jumlah tenaga perawat keseluruhan seharusnya total 31 orang (sumber data kebutuhan tenaga IRD 2007) dan insentif yang proporsional sehingga perawat harus bekerja lebih keras. Melihat banyaknya kasus pasien dan kondisi kerja yang tidak stabil tiap harinya sehingga membuat perawat sangat rentan mengalami distres dalam bekerja, sementara itu menurut John Newmen (2000) stres akibat pekerjaan bisa mempengaruhi tiga aspek yaitu gejala psikologis, psikis dan perilaku. Ini bisa ditunjukkan dengan hasil kritik dan saran tentang prestasi kerja dan asuhan keperawatan yang menurun (koordinasi kepala ruang 2008), penurunan kualitas hubungan interpersonal 10 % pindah tugas 20%, memendam perasaan 10%, ketegangan kerja 10%. (data IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan data yang telah diuraikan pada latar belakang, maka rumusan masalah adalah “Adakah hubungan antara stres kerja dengan gangguan kesehatan perawat di instalasi rawat darurat RSUP Dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten ?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan gangguan kesehatan perawat di IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya stres kerja perawat IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

b. Diketahuinya gangguan kesehatan perawat IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Rumah Sakit

a. Memberikan masukan kepada rumah sakit selaku pemberi pelayanan kesehatan (yang didalamnya terdiri dari salah satu komponen karyawan terbesar yaitu perawat, untuk melakukan kebijakan dalam pengelolaan stres kerja terhadap perawat.

b. Memberikan masukan kepada rumah sakit sebagai penetap kebijakan untuk memperhatikan dan merencanakan sumber daya manusia kesehatan secara komprehensif.

2. Bagi Profesi

a. Membantu profesi perawat dalam mempelajari sekaligus mengenali bahwa pekerjaan perawat adalah sebuah pekerjaan yang beresiko terhadap kondisi kesehatan.

b. Nantinya dapat memberikan stimuli bagi profesi perawat agar dapat mengantisipasi dan dapat melakukan managemen stres secara efektif dan efisien.

c. Nantinya dapat memberikan masukan kepada organisasi profesi agar dapat melakukan suatu kajian-kajian keilmuan terkait dengan managemen stress bagi perawat di wilayah kerjanya.

3. Bagi Penulis

a. Belajar mengasah kemampuan meneliti dan peduli terhadap profesi perawat.

b. Mendorong penulis untuk memulai dan terus mampu mengembangkan diri, berpandangan luas dan bersikap professional

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup materi : materi dibatasi oleh ilmu manajemen stres khususnya bersumber pada stres kerja dengan gangguan kesehatan perawat IRD di Rumah Sakit.

Responden / tempat : perawat di IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.

Ruang lingkup waktu : penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2007 sampai dengan bulan April 2007.

F. Keaslian Penelitian

Menurut survei pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan gangguan kesehatan perawat di instansi rawat darurat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten belum pernah dilakukan.

Penelitian lain yang berhubungan dengan stres kerja antara lain :

1. Ilmi (2003) Pengaruh stres kerja terhadap prestasi kerja dan identifikasi manajemen stres yang digunakan perawat di ruang rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin. Jenis penelitian ini adalah eksplanatif dengan rancangan penelitian expost facto variabel stres kerja, stresor pekerjaan dan manajemen stres diukur dengan menggunakan kuesioner secara self assessment dan untuk variabel prestasi kerja diukur dengan cara observasi dengan menggunakan Check List. Rancangan analisis data dilakukan dengan menggunakan cross tab untuk pengaruh stres kerja terhadap gangguan kesehatan, prestasi kerja dan frekuensi serta presentasi dalam pemberian makna penelitian untuk variabel stresor dan manajemen stres.

2. Tyas, Kaprananing (2004) Skripsi. Hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat empati pada perawat di instalasi rawat inap RSUD kota Yogyakarta, jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif non eksperimental menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres kerja dengan tingkat empati pada perawat di instalasi rawat inap dengan koefisien rank spearman r = 0,511 (hubungan negative) sampelnya 30 perawat yang bekerja di instalasi rawat inap RSUD kota yogyakarta. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti terletak pada lokasi, populasi, sample dan instrument yang digunakan.

Hasil penelitian menyatakan bahwa rumah sakit dapat sebagai sumber stres kerja. Stres kerja berpengaruh terhadap gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan akan mempengaruhi perawat terhadap prestasi kerja. Tinggi rendahnya tingkat stres kerja tergantung dari manajemen stres yang dilakukan oleh individu dalam menghadapi stresor pekerjaan tersebut. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti terletak pada jumlah variabel, lokasi, sample dan instrument yang dipergunakan.

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan komentar Anda

h1

TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DIABETES MELLITUS DALAM MENGENDALIKAN KADAR GULA DARAH DI WILAYAH SOROSUTAN UMBULHARJO YOGYAKARTA

27 April 2009

Naimatus Sya’diyah

ABSTRAK

Latar Belakang Masalah: Diabetes Mellitus (DM) dan proses menuju penyakit menunjukkan gejala yang sangat biasa dengan akibat yang sangat serius dan merupakan salah satu dari sekian banyak masalah kesehatan yang kini menjadi trend sepanjang masa dan serasa tidak pernah ada ujungnya.

Tujuan penelitian: Untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien diabetes mellitus tipe-2 dalam mengendalikan kadar gula darah di Wilayah Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Chi-Square yang menghitung 2 variabel yaitu variabel berskala nominal dan nominal.

Hasil Penelitian: Dari hasil perhitungan statistik diperoleh nilai t hitung 1,094 dan nilai t tabel (0,05)=3,481, karena nilai t hitung 1,094< t tabel 3,481 sedangkan nilai signifikansi (P)=0,296 yang dibandingkan dengan nilai α=5% dimana nilai P>0,05, maka H0 diterima.

Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara tingkat kepatuhan dengan terkendalinya kadar gula darah dan sebagian pasien DM tipe 2 yang bertempat tinggal di Wilayah sorosutan Umbulharjo Yogyakarta tidak patuh dalam upaya pengendalian kadar gula darah danmemiliki kadar gula darah yang tidak terkendali.

Kata kunci: Diabetes Mellitus, tingkat kepatuhan, kadar gula darah.
Ingin dapat lengkapnya hubungi :  stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda