Archive for Mei, 2009

h1

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG POLA MAKAN DIABETUS MILITUS DENGAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETUS MILITUS TIPE II DI BPKM DINAS KESEHATAN DAN SOSIAL KABUPATEN BOYOLALI

11 Mei 2009

ABSTRAKSI

Latar belakang penelitian ini adalah penyakit diabetes militus dapat dikurangi resiko komplikasinya dengan pengaturan diet atau pola makan yang baik untuk mengendalikan kadar gula darah. Pengetahuan tentang pola makan sangat diperlukan bagi penderita diabetus melitus untuk dapat melakukan diet yang tepat.

Tujuan penelitian ini diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan diabetus militus dengan kadar gula darah  penderita diabetus militus di BPKM Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali.

Metode penelitian : Jenis penelitian ini studi korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah responden 43 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner yang memenuhi kriteria validitas product moment dan reliabilitas alpha. Analisis data menggunakan uji kendalls tau-b.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar atau 48,8 % pasien diabetus melitus tipe II memiliki pengetahuan tentang pola makan kategori sedang dan 62,8 % pasien diabetus melitus tipe II di BPKM Dinas Kesehatan dan Sosial Boyolali memiliki kadar gula darah normal. Hasil uji statistik kendall tau-b : Pengetahuan dengan kadar gula darah  dengan nilai P = 0,002 < 0,05.

Kesimpulan : Ada hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan diabetus militus dengan kadar gula darah  penderita diabetus militus di BPKM Dinas Kesehatan dan Sosial Kabupaten Boyolali.

Kata Kunci: Pengetahuan, Pola makan, Gula darah, Diabetus Militus.
Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

Iklan
h1

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI REMAJA PADA SISWA-SISWI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI LANGGUDU KABUPATEN BIMA PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

10 Mei 2009

ASMINI ASTI

ABSTRAKSI

Latar Belakang: Kualitas gizi di Indonesia Sangat memprihatinkan, hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai gizi masyarakat, banyak gizi buruk, busung lapar di daerah-daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor ekonomi, sosial budaya, kebiasaan dan kesukaan dan kesukaan. Kondisi kesehatan termasuk juga pendidikan atau pengetahuan. Selain tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat, banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, baik faktor individu, keluarga maupun masyarakat.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang dengan status gizi remaja pada siswa-siswi di MTS Negeri Langgudu Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Metode: Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional dengan metode kuantitatif dengan rancangan cross sectional dengan pengolahan data menggunakan Korelasi Kendall Tau. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2008. Responden yang diambil sebanyak 83 siswa. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan tentang gizi yang diisi oleh siswa-siswi.

Hasil: Tingkat pengetahuan siswa-siswi di Madrsah Tsanawiyah Negeri Langgudu Kabupaten Bima sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 45 orang dari 83 siswa dan yang mempunyai status gizi baik sebanyak 48 siswa. Setelah dilakukan analisa data dengan rumus kendall tau diperoleh hasil r hitung sebesar 0,409 dan r tabel sebesar 0,217 dengan taraf signifikan 5% (p<0,05).

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang dengan  status gizi remaja pada siswa-siswi di Madrasah Tsanawiyah Negeri Langgudu Kabupaten Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Kata Kunci: Pengetahuan, Status Gizi, Remaja.
Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN PENDAMPINGAN SUAMI DENGAN KELANCARAN PROSES PERSALINAN KALA I DI BIDAN DELIMA GENENG

10 Mei 2009

ANIS HANDONOWATI

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan AKI negara- negara ASEAN lainnya. Berbagai faktor yang terkait dengan resiko terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan cara pencegahannya telah diketahui, namun demikian umlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. Diperkirakan terjadi 5 juta persalinan setiap tahunnya. Dua puluh ribu diantaranya berakhir dengan kematian akibat sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan (Rencana Strategis Nasional: MPS, 2001).

Dukungan psikologi dan perhatian akan memberi dampak tehadap pola kehidupan sosial keharmonisan, penghargaan, pengorbanan, kasih sayang dan empati pada wanita hamil dan dari aspek teknis, dapat mengurangi aspek sumber daya misalnya: tenaga ahli, cara penyelesaian persainan normal, akselerasi, kendali nyeri dan asuhan neonatal (Saiffudin, 2001).

Lebih dari separuh (104,6 juta orang) dari total penduduk Indonesia (208,2 juta orang) adalah perempuan. Namun kualitas hidup perempuan jauh tertinggal dibandingkan laki- laki (UNICEF, 2000).

Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan, preeklamsi/ eklamsia dan infeksi. Selain itu data dan informasi kesenjangan gender di indonesia (2001) disebut bahwa permasalahan: kesehatan reproduksi masih diwarnai oleh adanya kesenjangan gender terutama dalam perawatan kehamilan yang belum memadai dan adanya 4 terlalu yaitu terlalu muda (< 20 tahun), terlalu tua (> 35 tahun), terlalu dekat jarak kehamilan (< 2 tahun) dan terlalu banyak anak (> 3 orang), (Depkes RI 2000).

Kehamilan dapat terjaga dan terawat sampai persalinan, sangat dibutuhkan partisipasi suami yang dibutuhkan antara lain : (1) Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada istri, (2) Mendorong dan mengantar istri untuk memeriksakan kehamilan kesehatan terdekat minimal 4 kali selama kehamilan, (3) Memenuhi gizi bagi istrinya agar tidak terjadi kekurangan gizi (BKKBN, 2000)

Menurut Menteri Negara Pendayagunaan Perempuan (MENEEPP), membantu para ibu menurunkan tingkat kematian, karena kehamilan dan melahirkan suatu peristiwa yang menyedihkan yang sesungguhnya bisa dicegah dan tidak perlu terjadi (Pelita, 2000).

Kehadiran suami merupakan salah satu dukungan moral yang dibutuhkan, karena pada saat ini ibu sedang mengalami stress yang berat sekali. Walaupun faktor tunggal terbesar yang dapat memodifikasi proses persalinan dan kelahiran dalam kebudayaan kita adalah para personil medis serta situasinya. Dimana hal ini dapat berpengaruh besar terhadap bentuk kecemasan dan depresi yang dirasakan ibu selama dan sesudah persalinan (Pelita, 2002).

Tindakan aborsi yang tidak aman juga memberikan kontribusi dalam kematian maternal. Hasil studi oleh POGI dan Depkes RI (2000) diperkirakan terdapat 2,3 juta tindakan aborsi setiap tahun di Indonesia dan 600 ribu kasus merupakan kehamilan yang tidak diinginkan  karena hamil sebelum nikah, kegagalan kontrasepsi dan korban perkosaan.

Dalam rangka menurunkan AKI di Indonesia, pada tahun 2000 pemerintah merancangkan Making Pregnensi Safer (MPS) yang merupakan strategi sektor kesehatan secara terfokus pada pendekatan dan perencanaan yang sistematis dan terpadu. Salah satu strategi MPS adalah mendorong pemberdayaan perempuan dan keluarga. Output yang diharapkan dari strategi tersebut adalah menetapkan keterlibatan suami dalam mempromosikan kesehatan ibu dan meningkatkan peran aktif keluarga dalam kehamilan dan persalinan (Depkes RI, 2001).

Walaupun secara kondisi suami tidak dapat melahirkan, tetapi tetap memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dengan istri dalam kesehatan reproduksi khususnya kesehatan ibu dan anak (MNPP, 2001). Pada kenyataannya di Indonesia masih terjadi permasalahan adanya ketimpangan gender baik dalam akses informasi maupun peran sehingga masih adanya anggapan bahwa kesehatan reproduksi adalah urusan perempuan. Selama ini pendampingan suami dalam proses persalinan dianggap aneh bahkan cenderung suami tidak ingin tahu bagaimana penderitaan istri yang sedang berjuang dengan penuh resiko dalam menghadapi persalinan.

Dalam pertolongan persalinan sebagian besar masih dilakukan oleh tenaga tidak profesional dan rendahnya partisipasi suami sehingga masih didapatkan adanya 3 perlambat yaitu (1) terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan di tingkat keluarga, (2) terlambat mencapai tempat pelayanan kesehatan dan (3) terlambat memperoleh penanganan medis yang memadai di tempat pelayanan kesehatan. Hal ini juga di sebabkan keputusan terhadap hak- hak reproduksi.

Adanya perubahan pandangan bahwa keterlibatan suami akan memberi kontribusi positif dalam peningkatan ibu dan anak. Dalam MPS dinyatakan pendekatan dalam meningkatkan partisipasi suami dalam kesehatan reproduksi adalah membekali suami dengan informasi dan mengikut sertakan suami dalam setiap upaya meningkatan kesehatan reproduksi. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan suami dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak adalah mendampingi istri selama proses persalinan dan mendukung upaya rujukan bila diperlukan.

Menurut Manuaba (1998) kondisi kejiwaan ibu hamil dan bersalin dapat mengalami beberapa perubahan. Menjelang persalinan sebagian besar ibu hamil merasa takut menghadapi persalinannya apalagi untuk yang pertama kali. Kehadiran keluarga terutama suami, asalkan disetujui istri dan fasilitas memungkinkan, dapat diijinkan pada kala I dan II.

Penelitian yang dilakukan oleh Khoiruddin (1998) mengungkapkan bahwa terdapat 13, 6 % ibu yang mengalami keguguran dan 4, 6 % yang mengalami proses melahirkan anak yang sulit karena diperlakukan kasar oleh suami selama proses kehamilan. Gerakan sayang Ibu (GSI) sangat diperlukan karena target penurunan AKI merupakan komitmen nasional dan Internasional, serta merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan di pusat maupun di daerah (GSI, 1996)

Gerakan sayang ibu memiliki 5 ciri- ciri utama diantaranya adalah “ kepedulian dan peran kaum pria meningkat “. Menurut Cholil (1996), peran aktif kaum pria menempati posisi penting dalam mempercepat penurunan AKI. Hal ini didukung oleh berbagai penemuan hasil penelitian tentang ciri- ciri ibu yang mengalami kematian peran suami dan kaum pria.

Berdasarkan paparan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pendampingan suami terhadap dengan kelancaran proses persalinan kala I di Bidan Delima Geneng, mengenai lama tidaknya proses persalinan kala I yang didampingi suami. Pemilihan sampel pada ibu-ibu bersalin yang ada di Bidan Delima, dimana ibu-ibu bersalin tersebut sangat membutuhkan dukungan terutama orang terdekatnya yaitu suami. Karena dengan proses persalinan kala I tersebut dapat menimbulkan rasa cemas dan takut.

Pada studi pendahuluan didapat pada tanggal 14 Oktober 2007 informasi bahwa Bidan Delima Geneng sebagai sarana pelayanan kesehatan dalam bidang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang mengarah pada visi dan misinya yaitu: Visi; Meningkatkan kwalitas pelayanan untuk memberikan pelayanan yang terbaik agar dapat memenuhi keinginan masyarakat, Misinya yaitu: Bidan Delima adalah bidan praktek swasta yang mampu memberikan pelayanan yang berkualitas terbaik dalam bidang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, bersahabat dan peduli terhadap kepentingan pelanggan serta memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan”. Untuk mewujutkan Visi dan Misi tersebut salah satu kebijakan yang dikembangkan dalam pelayanan yang mendukung GSI adalah mengupayakan persalinan yang di dampingin suami atau keluarga selama proses persalinan.

Berdasarkan Visi dan Misi yang ada diatas dan belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaat pendampingan suami dalam proses persalinan di Bidan Delima Geneng. Pada kesempatan ini peneliti ingin meneliti tentang hubungan pendampingan suami dengan kelancaran proses persalinan kala I disana muncul masalah yang dijumpai bahwa pendampingan suami lebih cepet daripada yang tidak didampingin suami pada waktu proses persalinan kala I pada fase aktif.

Jumlah kelahiran di Bidan Delima Geneng tahun 2005 sebanyak 3069 kelahiran hidup. Keseluruhan kelahiran tersebut terdiri dari 1015 tindakan seksio sesarea, 881 tindakan vakum ekstraksi dan 235 persalinan spontan. Besarnya kunjungan hamil sebanyak 4.450 kunjungan. Studi pendahuluan ini di dapat pada tanggal 14 Oktober 2007.
Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN PENURUNAN PRODUKTIFITAS KERJA PADA USIA LANJUT DENGAN TINGKAT KECEMASAN USIA LANJUT DI RT 01 DAN RT 02 DUSUN KEPEK DESA TIMBULHARJO KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA 2008

10 Mei 2009

Oleh : Agus Widyawati

ABSTRAKSI

Latar belakang: Dusun Kepek RT 01 dan RT 02 jumlah usia lanjutnya 37,18% dari 247 orang dibandingkan RT yang lain, 47% dari jumlah usia lanjut masih bekerja dan 66% temasuk golongan keluarga miskin. Dari pernyataan 10 usia lanjut yang peneliti temui ada 8 orang  atau 80% yang menyatakan mudah menangis, tidak bisa tidur, berdebar-debar, merasa takut dan khawatir dengan kondisi yang menurun, tidak mampu bekerja optimal.

Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara penurunan produktivitas kerja usia lanjut dengan tingkat kecemasan usia lanjut di Dusun Kepek RT 01 dan RT 02 Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional yang bersifat korelasional. Penelitian dilakukan pada bulan Juni di Dusun Kepek RT 01 dan RT 02 Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta. Pengambilan sampel secara total sampling dengan jumlah responden 60 orang. Pengambilan data menggunkan kuesioner dan T-Mass. Analisa data bivariat, dengan uji hipotesis Kendal tau.

Hasil dan Pembahasan: Hasil uji hipotesisi korelasi Kendall tau ()menunjukan adanya hubungan antara penurunan produktivitas kerja usia lanjut dengan tingkat kecemasan usia lanjut. Dengan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,520 dengan taraf signifikasi (p) 0,000.

Kesimpulan: Semakin menurunan produktivitas kerja akan mengakibatkan kecemasan, kecemasan maupun penurunan produktivitas kerja setiap orang berbeda-beda berdasarkan faktor personal.

Kata Kunci : Produktivitas kerja, kecemasan, usia lanjut.
Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS AFILIASI BEDAH N 21 GEMILANG MAGELANG

10 Mei 2009

OLEH : NOVITA

ABSTRAKSI

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat penyelenggaraan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan & bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan, kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemeliharaan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Semakin tingginya tingkat kecerdasan dan sosial ekonomi masyarakat, maka pengetahuan masyarakat terhadap penyakit maupun upaya penyembuhan semakin berkembang. Karena hal tersebut, maka masyarakat akan menuntut penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Dulu pelayanan kesehatan hanya menyediakan faktor ketersediaan (avaibility), ketercapaian (accessibility), dan keterjangkauan (affordability). Pada masa sekarang dan yang akan datang, selain 3 hal tersebut, aspek kualitas (quality), kesinambungan (continuity) serta kelengkapan (comprehensiveness) menjadi hal yang sangat penting dan sangat diharapkan oleh masyarakat. Saat ini banyak sekali Rumah Sakit yang didirikan dengan mengemban visi dan misi masing-masing, untuk meningkatkan citra pelayanan  yang baik di masyarakat.

Rumah Sakit sebagai perusahaan jasa, kualitas pelayanan merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan kepuasan konsumen atau pelanggan, sehingga dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas kepada perusahaan karena memberikan kualitas yang memuaskan ( Tjiptono, 2000: 54 ). Dahulu Rumah sakit dianggap hanya sebagai suatu tempat penderita ditangani. Saat ini rumah sakit dianggap sebagai suatu lembaga yang giat memperluas layanannya kepada penderita dimanapun lokasinya, Seiring meningkatnya kerumitan pelayanan kesehatan, diagnosis, pencegahan dan terapi maka diperlukan tenaga terlatih, fasilitas dan alat yang mencukupi untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, diminta patut diperoleh masyarakat dengan alasan pelayanan kesehatan ditetapkan menjadi hak bagi semua.

Dalam proses konsumsi, persepsi konsumen terhadap kualitas pelayanan merupakan suatu penilaian yang menyeluruh atas keunggulan pelayanan, hanya mereka (konsumen) yang dapat menentukan citra kualitas pelayanan, apakah layanan yang diberikan memuaskan ataupun mengecewakan. Oleh karena itu, citra kualitas pelayanan diukur berdasarkan sudut pandang penyedia jasa ( Tjiptono, 2001: 61 ).

Rumah sakit sebagai organisasi sosial yang bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat dituntut untuk selalu memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan bagi setiap pengguna yang memanfaatkannya.

RSK Afiliasi Bedah N-21 Gemilang merupakan Rumah sakit khusus baru yang pada mulanya diawali dari praktek dokter swasta. Perkembangan waktu membawa kepada pengembangan lebih lanjut, kini berkembang menjadi Rumah Sakit Khusus Afiliasi Bedah meliputi kedokteran bedah, kedokteran mata, kedokteran obstetri dan gynekologi dan kedokteran telinga hidung tenggorokan dilengkapi dengan kedokteran kegawatdaruratan. Jangkauan pelayanan meliputi penduduk di wilayah kecamatan Mungkid, Kecamatan Muntilan bahkan  penduduk di Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak Rumah Sakit Afiliasi Bedah N 21 Gemilang Magelang yang berada di wilayah ibukota kabupaten sekaligus bertepatan dengan persimpangan jalur Jogja – Semarang – Borobudur tepatnya di Jalan Pondok Pabelan no 5, Batikan, Mungkid. kan mempermudah jangkauan pelayanan.

Keperawatan adalah salah satu profesi di Rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, karena selama 24 jam perawat berada di samping pasien dan bertanggung jawab terhadap pelayanan perawatan pasien. Rumah Sakit Afiliasi Bedah N 21 Gemilang Magelang rata-rata memiliki pasien rawat jalan sekitar 12 pasien per hari yang ditangani oleh dokter dengan dibantu perawat.

Berdasarkan keluhan pelanggan yang disampaikan melalui kartu keluhan pelanggan yang didapat pada tahun 2007 sebanyak 11 keluhan, 4 diantara 11 keluhan (36,4%) menyatakan keluhan kurangnya keramahan dan profesionalitas tenaga perawat, 3 keluhan (27,3%) mengeluh tentang  peralatan yang kurang mendukung, 2 keluhan (18,2%) mengeluh tidak adanya kesembuhan. Sedangkan 2 keluhan (18,2%) mengeluh kurangnya kebersihan  ruang rawat jalan. Walaupun angka keluhan masih sangat kecil namun hal ini harus segera ditangani secepat mungkin sehingga dapat memuaskan pelanggan yang pada akhirnya akan meningkatkan kunjungan pasien.

Dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, setiap individu menginginkan pelayanan yang sesuai dengan harapannya, namun ada beberapa  kalangan masyarakat yang mengharapkan pelayanan yang spesial. Pada umumnya masyarakat menginginkan perlakuan yang sama dari petugas tanpa melihat siapa, darimana dan kedudukannya, sehingga siapapun orangnya mempunyai kedudukan yang sama, karena dihadapan hukum semua masyarakat mempunyai hak mendapatkan pelayanan yang sama.
Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA FASE INTENSIF PADA PENDERITA TB DI PUSKESMAS PRACIMANTORO WONOGIRI JAWA TENGAH

10 Mei 2009

OLEH : WARSITO

ABSTRAK

Latar Belakang : Tuberkulosis paru (TB paru) adalah jenis penyakit kronis yang masih menjadi masalah kesehatan dunia. Di Indonesia sendiri terjadi peningkatan kasus dari tahun ke tahun. Dukungan sosial keluarga sangat berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada fase intensif pada penderita TB.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan minum obat pada fase intensif pada penderita TB di Puskesmas Pracimantoro Wonogiri Jawa Tengah

Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 orang. Instrumen penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner dukungan sosial yang berjumlah 17 pertanyaan dan kuesioner kepatuhan minum obat berjumlah 10 pertanyaan. Analisis data yang digunakan dengan komputasi SPSS 11.0 for windows dengan uji korelasi Chi Square.

Hasil Penelitian : Ada hubungan yang positif dan bermakna antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan minum obat pada fase intensif pada penderita TB paru dengan p value 0,000 < 0,05 dan coefisien contingensy (C) sebesar 0,707. Hasil pengukuran dukungan sosial yang termasuk kategori tinggi sebanyak 30 responden (75%), yang termasuk kategori sedang sebanyak 6 orang (15%), dan yang termasuk kategori rendah sebanyak 4 responden (10%). Kepatuhan minum obat juga terlihat baik yaitu sebanyak 36 orang (90%) patuh minum obat dan hanya 4 orang (10%) yang tidak patuh minum obat.. Kesimpulannya : Ada hubungan yang sangat bermakna antara dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan minum obat pada fase intensif pada penderita TB di Puskesmas Pracimantoro Kabupaten Wonogiri.

Kata Kunci : Dukungan Sosial Keluarga , Kepatuhan Minum Obat, Penderita TB
Ingin dapat lengkapnya hubungi :  stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda

h1

HUBUNGAN SIKAP DAN PERILAKU PERAWAT PUSKESMAS DENGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT (PERKESMAS) DI KABUPATEN KEBUMEN 2008

9 Mei 2009

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap dan perilaku perawat puskesmas dengan pelaksanaan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas Kabupaten Kebumen.

Metode penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan  crossectional survey . Subyek penelitian ini adalah Perawat Petugas Perkesmas dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang perawat petugas perkesmas yang bekerja di Puskesmas Kabupaten Kebumen.Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah univariat dan bivariat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petugas perkesmas terdiri 57% perempuan dan 43% laki- laki, berumur 20 sampai 54 tahun, mayoritas berpendidikan D III Keperawatan (57%), 57% memiliki pangkat / golongan II, dengan masa kerja antara 5 sampai 30 tahun dan  57 %  belum pernah mengikuti pelatihan perkesmas, 71% sikap perawat yang cukup baik terhadap kegiatan perkesmas, sebagian besar (66%) memiliki perilaku yang cukup baik terhadap kegiatan perkesmas.Hasil pelaksanaan kegiatan perkesmas di Puskesmas Kabupaten Kebumen adalah 22 Puskesmas (63%) cukup baik, 7 Puskesmas (20%) kurang baik sedangkan pelaksanaan kegiatan perkesmas yang baik hanya 6 Puskesmas (17%).

Kesimpulan terdapat hubungan yang bermakna antara sikap (p-value: 0,043), dan perilaku perawat petugas perkesmas (p-value : 0,001) dengan pelaksanaan kegiatan perkesmas di Puskesmas Kabupaten Kebumen.

Saran bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas untuk selalu meningkatkan pembinaan kepada perawat petugas perkesmas dan perlunya pelatihan perkesmas bagi petugas perkesmas Puskesmas.

Daftar Pustaka  : 20 ( 1994 – 2004 )

Kata Kunci       : Sikap dan Perilaku, Perawat Puskesmas, Perkesmas

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda