Archive for Januari, 2012

h1

PENGARUH KONSELING KELUARGA TERHADAP PERBAIKAN PERAN KELUARGA DALAM PENGELOLAAN ANGGOTA KELUARGA DENGAN DM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOKAP I KULON PROGO

5 Januari 2012

Afifin Sholihah

INTISARI

Diabetus mellitus bila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain –lain. Dengan pengalaman yang baik yaitu kerjasama antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan, diharapkan komplikasi kronik dapat dicegah.

Tujuan Mempelajari dan membuktikan pengaruh kopnseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM

Penelitian dilakukan di Puskesmas Kokap I, pada bulan September – November 2007, dengan jumlah populasi 29, dengan tehnick total sampling dan karena ada yang tidak memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi akhirnya diperoleh 26 sampel pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM.

Hasil penelitian ada pengaruh yang sangat signifikan dengan selisih rerata 12.97 tantang  konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah kerja Puskesmas Kokap I tahun 2007.

 

Kata kunci : Konseling keluarga, perbaikan peran.

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

 

Iklan
h1

HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI ANTENATAL CARE DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH DI PONDOK BERSALIN AN NISAA KARANGJATI KALIJAMBE SRAGEN 2008

5 Januari 2012

Oleh : Heri Nugroho

ABSTRAKSI

Dari hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 31 Desember 2007 di pondok bersalin An nisaa, Karangjati, Kalijambe, Sragen, terdapat 127 ibu yang melahirkan secara normal, untuk tahun 2005 terdapat 8 kasus berat badan lahir rendah, sedangkan pada tahun 2006 terdapat 5 kasus berat badan lahir rendah dan tahun 2007 terdapat 13 kasus berat badan lahir rendah atau sekitar 10.2 %.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang hubungan antara frekuensi Antenatal Care dengan kejadian berat bayi lahir rendah di pondok bersalin An nisaa Karangjati, Kalijambe, Sragen 2008.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik retrospektif. Subyek penelitian ini adalah data sekunder ibu – ibu yang memeriksakan kehamilan pada periode Januari – Desember 2007 di pondok bersalin An nisaa Karangjati, Kalijambe, Sragen. Jumlah sampel yang digunakan 127 ibu hamil yang terdiri dari Ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC adalah lebih dari  4 kali sebanyak 114 responden (89,8 %) dari jumlah total ibu yang melakukan ANC 4 – 7 kali kunjungan ANC, sedangkan jumlah ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali sebanyak 13 responden (10,2 %).

Hasil penelitian yang didapat adalah dari 127  ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di pondok bersalin An nisaa Karangjati, Kalijambe, Sragen, terdapat kasus BBLR 13 (10,2%) yang terdiri dari 10 bayi BBLR dengan kunjungan ANC kurang dari 4 kali dan 3 bayi BBLR dengan kunjungan ANC lebih dari 4 kali sedangkan untuk kasus BBLN 114 (89,8%).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan antara frekuensi antenatal care dengan kejadian berat bayi lahir rendah di pondok bersalin An Nisaa Karangjati, Kalijambe Sragen 2008. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikasi yaitu 0,000 yang dibandingkan dengan nilai α : 5%, maka P < 0,05.

 

Kata kunci : Frekuensi Antenatal Care dan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN POLA PEMENUHAN KEBUTUHAN TIDUR PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA

5 Januari 2012

WAHYU TRININGSIH

ABSTRAKSI

Kekurangan istirahat dan tidur yang berlangsung lama dapat berdampak pada kondisi keesokan harinya.  Respon psikologis yang menyertai tindakan pembedahan pada pasien pre operasi adalah kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan emosi tidak stabil mempengaruhi kemampuan tidur seseorang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan pola pemenuhan kebutuhan tidur pasien pre operasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian non-eksperimen metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua pasien dalam perawatan pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Jumlah sampel yang didapat sebesar 35 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Variabel bebas dalam penelitian adalah tingkat kecemasan dan variabel terikat pola pemenuhan kebutuhan tidur pasien pre operasi. Cara pengumpulan data dengan kuesioner yang terdiri atas 18 pertanyaan tertutup untuk tingkat kecemasan dan 16 pertanyaan untuk pola pemenuhan kebutuhan tidur. Data yang didapat dianalisa dengan Kendall Thau.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 62,86% responden berada dalam tingkat kecemasan sedang dan sebanyak 54,28% responden pola kebutuhan tidurnya kurang. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan pola pemenuhan kebutuhan tidur sebesar 0,313 atau 31,3% dengan signifikansi 0,020 (sig.p<0,05).

 

Kata Kunci : Tingkat kecemasan, pola pemenuhan tidur, pre operasi

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

 

h1

PENGARUH TERAPI MUSIK LANGGAM JAWA TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PSIKOGERIATRI DI RSJ PROF.DR.SOEROYO MAGELANG TAHUN 2008

5 Januari 2012

Maslachatul Ghoniyah

ABSTRAKSI

Kecemasan dapat dialami pasien psikogeriatri yang sedang menjalani perawatan yang dapat akut maupun kronis. Terapi musik langgam jawa dapat digunakan dalam mengurangi tingkat kecemasan pasien psikogeriatrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik langgam jawa terhadap tingkat kecemasan pasien psikogeriatri.

Penelitian ini menggunakan desain one group pretest-postest design. Populasinya pasien psikogeriatrik yang dirawat di RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang. Sampel diambil teknik total sampling (30 pasien psikogeriatri). Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengisi quesioner. Analisa data dengan uji paired t test  dengan menggunakan software SPSS Versi 13.0.

Hasil analisa : 66,7% pasien psikogeriatrik sebelum dilakukan terapi musik mengalami kecemasan yang berat. Sesudah dilakukan terapi musik, 73,3% pasien psikogeriatrik mengalami kecemasan sedang. Bahkan terdapat 6,7% atau 2 orang mengalami kecemasan ringan setelah diberikan terapi musik. Tingkat kecemasan pada pre test menunjukkan kecemasan berat dengan rerata 3,7000 dan pada post test menunjukkan tingkat kecemasan sedang dengan rerata 3,1333. Ada perbedaan tingkat kecemasan antara sebelum dengan sesudah dilakukan terapi musik dengan signifikansi p = 0,000 dan t= 6,159.

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan bagi rumah sakit dalam menyusun standar operasional prosedur tentang terapi musik dan melakukan sosialisasi kepada semua perawat. Bagi perawat, meningkatkan frekuensi dan kualitas pelaksanaan terapi musik.

 

Kata kunci : Terapi Musik, Psikogeriatri, Kecemasan

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

 

h1

PENGARUH TERAPI BEKAM KERING TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT NYERI PADA LANSIA DI PANTI WRHEDA BUDI DHARMA YOGYAKARTA

5 Januari 2012

Oleh : Dian Miftahul Mizan

ABSTRAKSI

Efek dari penyakit terhadap tubuh akan menimbulkan rasa nyeri. Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan kesehatan. Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang paling sering tejadi di bidang medis, nyeri merupakan salah satu yang paling sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri merasa tertekan atau menderita dan mencari upaya untuk menghilangkan nyeri. Penanganan nyeri dengan cara non farmakologi perlu diterapkan.Tetapi, kenyataan dilapangan klien yang mengeluh nyeri diberi analgetik dan mengabaikan metode non farmakologik seperti Terapi Bekam Kering.

Penelitian ini adalah untuk meneliti ”Pengaruh Terapi Bekam Kering Terhadap Perubahan Tingkat Nyeri”Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yaitu menilai pengaruh pemberian terapi bekam kering terhadap perubahan tingkat nyeri dengan pendekatan Pra eksperimen menggunakan One Group Pretest-Posttest desaign, dengan mengambil lokasi di Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta. Metode pengambilan sampel dengan purposive sampling, dengan responden 40 orang. Uji analisis pada penelitian ini adalah Paired t-Test (t-Test untuk dua sampel yang berhubungan) dengan menggunakan SPSS 10,0.

Penelitian yang didapat menggambarkan bahwa ada perbedaan skala nyeri sebelum pemberian terapi bekam dengan skala nyeri setelah pemberian terapi bekam kering.

Terapi bekam kering mempunyai pengaruh yang bermakna dalam menurunkan skala nyeri dengan signifikansi 0,000

 

Kata Kunci : Terapi Bekam Kering – Perubahan Tingkat Nyeri – Lansia

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

 

h1

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELURGA DENGAN TINGKAT KEPATUHAN LANJUT USIA DALAM MELAKSANAKAN SENAM LANSIA DI RW 04 GIWANGAN UMBULHARJO VII YOGYAKARTA

5 Januari 2012

Oleh: ANA FARIDA

ABSTRAK

Usia harapan  hidup yang meningkat memberikan dampak pada peningkatan  populasi lansia di Indonesia yang semakin menuntut pelayanan dan fasilitas kesehatan untuk menuju lansia yang bahagia, berguna dan berkulitas. Upaya peningkatan kesehatan tersebut diantaranya dengan didakan senam lansia, khususnya di RW 04 Giwangan UH VII Yogyakarta, namun masih banyak yang tidak mengikuti senam, dalam hal ini peneliti bermaksud meneliti hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan lanjut usia dalam melaksanakan senam lansia untuk mengetahui dukungan keluarga terhadap tingkat kepatuhan lansia dalam melaksanakan senam lansia di RW tersebut.

 Jenis penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah lansia di RW 04 Giwangan Umbulharjo Yogyakarta dengan pengambilan sampel Purposive sampling  berdasarkan criteria inklusi sebanyak 23 responden. Pengambilan data dengan kuesioner dukungan keluarga dan tingkat kepatuhan dengan skala likert. Untuk dukungan keluarga berdasarkan kategori tinggi,sedang dan rendah, untuk tingkat kepatuhan dengan kategori patuh, kurang patuh dan tidak patuh.

Pengolahan data mengguanakan Spearman rho didapatkan korelasi sebesar 0,648 dengan signifikansi 0.001yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho di tolakdan Ha diterima yang berate ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kepatuhan lansia. Sehingga semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan lansia.

Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Tingkat Kepatuhan, Lanjut Usia

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda