Archive for the ‘Kesehatan Masyarakat’ Category

h1

HUBUNGAN ANTARA PENDAPATAN KELUARGA DAN POLA ASUH GIZI DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI BETOKAN DEMAK

13 Juli 2014

INTISARI

Ninik Asri Rokhana

Latar Belakang : Anak balita merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat gizi yang tinggi setiap kg Berat Badannya. Pendapatan suatu keluarga merupakan salah satu unsur yang dapat memperngaruhi status gizi. Hal ini menyangkut daya beli keluarga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makan. Masa balita sangat tergantung pada Ibu atau pengasuhnya sehingga pertumbuhan dan perkembangannya sangat tergantung pada pola asuh gizinya. Penelitian ini mengungkap permasalahan tentang adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita dan hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di Kelurahan Betokan Kecamatan Demak Kabupaten Demak tahun 2005.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita dan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita di Kelurahan Betokan Kecamatan Demak Kabupaten Demak tahun 2005.
Jenis penelitian bersifat eksplanatory research (penelitian penjelasan). Sifat penelitiannya adalah survey deskriptif.
Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 202 anak balita dengan sampel sebanyak 47 anak balita.
Hasil : Berdasarkan hasil penelitian dari 47 responden mengenai hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi anak balita yaitu pendapatan keluarga relatif sedang sebesar 55,3% dan anak memiliki status gizi normal sebesar 72,3%,hubungan pola asuh gizi dengan status gizi yaitu 65,8% memiliki pola asuh gizi baik dan memiliki status gizi normal sebesar 72,3%. Dari hasil pembahasan dapat ditemukan bahwa hubungan antara pendapatan dan status gizi dari data tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan dengan pendapatan yang tinggi dan sedang mempunyai status gizi baik. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji chi square sebesar 5,577 dengan signifikan 1% diperoleh nilai kritik sebesar 13,28 yang berarti tidak ada hubungan antara pendapatan dengan status gizi. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada kecenderungan antara pola asuh gizi dengan status gizi ditunjukkan dari hasil uji chi square sebesar 18,379 dengan signifikan 1% diperoleh nilai kritik sebesar 9,21 yang berarti ada hubungan antara pola asuh gizi dengan status gizi anak balita.
Saran : Saran yang dapat diberikan yaitu ibu sebagai pengatur keuangan hendaknya dapat mengalokasikan pendapatan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan baik, pola asuh gizi anak salah satunya adalah praktik pemberian makan pada anak sehingga ibu harus tetap memperhatikan makanan anak balitanya karena kebutuhan tubuh akan zat gizi dapat dicukupi atau tidak tergantung dari pangan yang dikonsumsi. Dan hendaknya berat badan anak balita ditimbang setiap bulannya secara rutin, hal ini dikarenakan untuk memantau pertumbuhan anak balita tersebut.

Kata kunci : Pendapatan Keluarga, Pola Asuh Gizi dan Status Gizi

Skripsi ini milik Universitas Negeri Semarang, Anda dapat membacanya di perpustakaan Universitas Negeri Semarang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atau jika Anda ingin memperoleh soft copy full teksnya silahkan hubungi: stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda (ketentuan berlaku).

PERHATIAN : Pastikan Anda telah menuliskan nama dan alamat email Anda dengan benar.

Iklan
h1

HUBUNGAN KETERBUKAAN DIRI (SELF-DISCLOSURE) DENGAN INTERAKSI SOSIAL REMAJA DI SMA NEGERI 3 BANTUL

13 Juli 2014

INTISARI

NISSA

Latar Belakang: Berinteraksi sosial merupakan bagian yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia sehari-hari, begitu juga dengan remaja. Agar remaja mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, maka remaja membutuhkan keterampilan sosial. Salah satu aspek yang penting dalam keterampilan sosial adalah keterbukaan diri (self-disclosure).
Tujuan: Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keterbukaan diri (self-disclosure) dengan interaksi sosial remaja di SMA Negeri 3 Bantul.
Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini siswa kelas X SMA Negeri 3 Bantul pada bulan Juni 2013 yaitu sebanyak 62 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui pengisian kuesioner. Sedangkan uji statistik dilakukan dengan analisis data univariat (distribusi frekuensi kumulatif ) dan bivariat (Spearman Rank).
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara keterbukaan diri (self-disclosure) dengan interaksi sosial remaja di SMA Negeri 3 Bantul. Hal ini ditunjukkan dari nilai sig. ρ sebesar 0,804 (> 0,05) dan nilai korelasi Spearman sebesar 0,032.
Kesimpulan: Oleh karena interaksi sosial remaja sudah baik, maka hal ini perlu dipertahankan.

Kata Kunci: Keterbukaan Diri, Interaksi Sosial, Remaja.

Karya Tulis Ilmiah ini milik STIKES Aisyiyah Yogyakarta, Anda dapat membacanya di perpustakaan STIKES Aisyiyah Yogyakarta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atau jika Anda ingin memperoleh soft copy full teksnya silahkan hubungi: stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda (ketentuan berlaku).

PERHATIAN : Pastikan Anda telah menuliskan nama dan alamat email Anda dengan benar.

h1

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECEMASAN IBU PREMENOPAUSE DALAM MENGHADAPI MASA MENOPAUSE DI PEDUKUHAN DAMPULAN CATURHARJO PANDAK BANTUL TAHUN 2014

13 Juli 2014

INTISARI

Dwi Rizqiaty

Latar Belakang: Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar 25 juta wanita di seluruh dunia mengalami menopause. Umumnya perempuan Indonesia mulai mengalami masa premenopause pada usia 40-50 tahun. Menopause yang dialami wanita seringkali menimbulkan kecemasan. Hasil wawancara terhadap ibu premenopause di Pedukuhan Dampulan menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami oleh ibu rata-rata akibat kurangnya pengetahuan ibu mengenai masa menopause, dan pengaruh sosial ekonomi.
Tujuan Penelitian: Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kecemasan ibu premenopause dalam menghadapi masa menopause di Pedukuhan Dampulan Caturharjo Pandak Bantul Tahun 2014.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu premenopause yang ada di Pedukuhan Dampulan sebanyak 62 orang. Penjaringan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis statistik dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat (Chi-square).
Hasil: Mayoritas responden berumur 49-50 tahun (38,7%), berpendidikan menengah (62,9%), memiliki tingkat ekonomi sedang (56,5%), memiliki pengetahuan dalam kategori cukup (53,2%) dan memiliki kecemasan ringan (53,2%). Hasil penelitian menunjukan nilai ρ pada umur yang diperoleh sebesar 0,127 dimana nilai tersebut lebih besar dari α=0,05. Sedangkan nilai ρ pada masing-masing variabel lain lebih kecil dari α=0,05 yakni pendidikan sebesar 0,019, sosial ekonomi sebesar 0,022 dan pengetahuan sebesar = 0,045.
Kesimpulan: Ada hubungan pendidikan, sosial ekonomi dan pengetahuan dengan kecemasan ibu premenopause dalam menghadapi menopause.

Kata Kunci: Tingkat Kecemasan, Premenopause, Menopause.

Karya Tulis Ilmiah ini milik Akbid Yogyakarta, Anda dapat membacanya di perpustakaan Akbid Yogyakarta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atau jika Anda ingin memperoleh soft copy full teksnya silahkan hubungi: stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda (ketentuan berlaku).

PERHATIAN : Pastikan Anda telah menuliskan nama dan alamat email Anda dengan benar.

h1

PERBEDAAN SIKAP WANITA DALAM MENGHADAPI MASA KLIMAKTERIUM DILIHAT DARI PENGETAHUAN TENTANG MENOPAUSE DI DESA KAMPUNG ISLAM KUSAMBA KECAMATAN DAWAN KABUPATEN KLUNGKUNG BALI.

13 Juli 2014

ABSTRAK
Oleh : NUR INDRIANI

Latar Belakang : Berbicara mengenai masalah menopause akan menimbulkan berbagai tanggapan dan penilaian yang berbeda pada masing-masing individu karena adanya perbedaan pengetahuan dari tiap individu sehingga sikap yang ditimbulkannya pun tidaklah sama. Minimnya pengetahuan yang dimiliki wanita paruh baya tentang masa menopause dapat mempengaruhi pandangan mereka, sehingga tidak menutup kemungkinan berpotensi menimbulkan permasalahan dalam diri individu baik hubungan dengan keluarga atau lingkup lebih luas. Menopause/klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non-reproduktif. Dengan memahami perubahan yang terjadi saat usia paruh baya dan diimbangi dengan pengetahuan yang cukup tentang menopause diharapkan wanita dapat mengerti apa yang terjadi dalam diri mereka sehingga dapat menjalani masa ini dengan lebih baik. Penelitian ini mengangkat judul perbedaan sikap wanita dalam menghadapi masa klimakterium dilihat dari pengetahuan tentang menopause.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan menopause pada wanita yang menghadapi masa klimakterium, sikap wanita dalam menghadapi masa klimakterium serta untuk mengetahui perbedaan sikap wanita yang menghadapi masa klimakterium dilihat dari pengetahuan tentang menopause.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita yang menghadapi masa klimakterium di Desa Kampung Islam Kusamba Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung Bali. Jumlah responden sebanyak 60 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan angket, observasi dan wawancara sebagai data pendukung.
Hasil : Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pengetahuan menopause pada wanita yang menghadapi masa klimakterium di Desa Kampung Islam Kusamba menunjukkan distribusi yang paling tinggi berada pada kategori rendah berjumlah 24 orang dengan prosentase sebanyak 40%. Sedangkan Sikap wanita yang menghadapi masa klimakterium menunjukkan bahwadistribusi yang paling tinggi berada pada kategori sedang berjumlah 23 orang dengan prosentase sebanyak 39%. Hasil penelitian selanjutnya sesuai dengan tingkat signifikansi α = 0,05 dan df = (3-1) (3-1) = 4, maka nilai χ2 kritis berdasarkan tabel χ2 (0,05;4) = 9,488, dengan nilai chi-square hitung 84,595, karena (84,595 > 9,488), maka Ho ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap wanita dalam menghadapi masa klimakterium dilihat dari pengetahuan tentang menopause pada taraf kepercayaan 95%

Kata kunci: Sikap, Klimakterium, Pengetahuan Menopause.

Karya Tulis Ilmiah ini milik UIN Malang, Anda dapat membacanya di perpustakaan Universitas Islam Negeri Malang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atau jika Anda ingin memperoleh soft copy full teksnya silahkan hubungi: stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda (ketentuan berlaku).

PERHATIAN : Pastikan Anda telah menuliskan nama dan alamat email Anda dengan benar.

h1

AKTIFITAS MENJADI PEER COUNSELOR DALAM PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWA PADA PUSAT INFORMASI DAN KONSELING MAHASISWA (PIKM) LARAS HATI TAHUN 2014

13 Juli 2014

INTISARI

Ratna Agustina

Latar Belakang: Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan senantiasa berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Salah satu bentuk hubungan sosial tersebut adalah dengan menjadi konselor teman sebaya. Konselor sebaya (peer counselor) merupakan bagian aktifitas dalam kepengurusan PIKM Laras Hati. Beraktifitas menjadi peer counselor tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi individu yang bersangkutan seperti memperoleh harga diri, namun juga dapat meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam memberikan konseling kepada teman-temannya.
Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan kepercayaan diri mahasiswa yang menjadi peer counselor dengan kepercayaan diri mahasiswa yang tidak menjadi peer counselor pada PIKM Laras Hati Tahun 2014.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian induksi komparatif. Sampel penelitian adalah mahasiswa yang aktif menjadi peer counselor dan mahasiswa yang tidak menjadi peer counselor sebanyak 50 mahasiswa. Pengambilan sampel berdasarkan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Uji analisis statistik menggunakan rumus z test.
Hasil: Mahasiswa yang beraktifitas menjadi peer counselor sebanyak 25 orang dan 100% memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, sedangkan mahasiswa yang tidak beraktifitas menjadi peer counselor 20 orang diantaranya memiliki tingkat kepercayaan diri sedang dan 5 orang sisanya memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi. Hasil uji analisis menunjukkan nilai z hitung sebesar -9,798 dimana z <z tabel (-9,798 < -2,011) dengan taraf signifikansi 0,05 dan nilai p sebesar 0,000.
Kesimpulan: Ada perbedaan bermakna antara kepercayaan diri mahasiswa yang menjadi peer counselor dengan kepercayaan diri mahasiswa yang tidak menjadi peer counselor.

Kata Kunci : Perbedaan, Kepercayaan Diri, Mahasiswa, Peer Counselor.

Karya Tulis Ilmiah ini milik Akbid Yo Yogyakarta, Anda dapat membacanya di perpustakaan Akbid Yogyakarta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Atau jika Anda ingin memperoleh soft copy full teksnya silahkan hubungi: stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan anda (ketentuan berlaku).

PERHATIAN : Pastikan Anda telah menuliskan nama dan alamat email Anda dengan benar.

h1

PENGARUH DEMOGRAFI KOTA KLATEN TERHADAP TINGKAT KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT CAKRA HUSADA KLATEN TAHUN 2007

15 Januari 2013

SRI REJEKI

ABSTRAKSI

 

Pada era Globalisasi sekarang ini yang diikuti dengan kemajuan teknologi  semakin berkembang pula penyakit yang diderita oleh manusia dikarenakan oleh banyak faktor antara lain dipengaruhi oleh gaya hidup yang kurang sehat karena masyarakat sekarang memilih yang sifatnya instan, hal tersebut di dikarenakan  pula polusi yang sekarang ini semakin banyak baik polusi udara, air, tanah, dan, suara yang kurang dapat diminimalisir oleh manusia bahkan sekarang adanya Global warning yang semakin menakutkan yang menyebabkan sekarang ini umur harapan hidup di Indonesia semakin rendah, tapi tidak sedikit pula mereka yang sadar akan hidup sehat seperti pada orang-orang yang mulai menjaga pola makan dan menerapkan pola hidup bersih dan mulai menjaga lingkungan sekitarnya termasuk pula mereka yang rajin ke rumah sakit untuk sekedar tahu tentang kesehatannya (cek-up) karena menurut mereka sehat itu mahal jadi lebih baik mencegah dari pada mengobati seperti dalam Undang-undang RI nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada bab 1 ayat 1,  yang mengatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, maka sekarang ini orang pun berusaha untuk mencari status ekonomi yang lebih tinggi guna mendapatkan status kesehatan yang lebih tinggi pula dengan cara  mengantisipasi sebelum terjadi sakit (preventive) .

Dan semakin bertambah pula keinginan manusia untuk mendapatkan kepuasan termasuk dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan apa yang orang tersebut inginkan, pada masa dahulu banyak orang berpikir Rumah Sakit adalah merupakan tempatnya orang yang sedang sakit dan tempat mendapatkan obat serta mencari kesembuhan saja tanpa melihat fasilitas dan pelayanan apa yang diberikan dari sebuah institusi Rumah Sakit, mereka hanya berpikir  kesembuhan dan tentunya hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan financial yang mereka miliki tanpa memperhitungkan kenyamanan bagi yang sakit maupun bagi keluarga yang menunggu, namun sekarang berbeda kebanyakan orang sudah mulai sadar akan manfaat Rumah Sakit sesungguhnya dan minat orang pun berubah, kini pelayanan serta fasilitas pun dipandang masyarakat untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mencari kesembuhan bagi orang yang status ekonominya menengah keatas guna mendapatkan kepuasan yang diinginkan.

Dan untuk mewujudkan tuntutan tersebut para pemilik, direktur serta para manajer Rumah Sakit berusaha untuk memperbaiki mutu kualitas layanan, fasilitas serta sumber daya manusia yang ada di Rumah Sakit tersebut dalam upaya mengikuti pasar yang ada saat ini, Pelaksaan manajemen di suatu Rumah Sakit termasuk juga pada bagian pemasaran harus secara jelas dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu, hal ini sesuai dengan kebutuhan yang terus berubah; bahwa tidak ada sesuatu hal pun yang dapat bertahan karena statis, apalagi era kemajuan informasi dan globalisasi telah merambah kesegala segi kehidupan  (Sabarguna 2004 : 78)

Berdasarkan PerMenKes No.4 Tahun 2000, RS Perjan yang berarti memperbolehkan pemilikan Rumah Sakit oleh badan hukum seperti PT atau CV, maka mulailah era bisnis dibidang Rumah Sakit yang ditandai dengan banyaknya Rumah Sakit swasta berdiri, dengan adanya hal tersebut maka kompetisi akan merupakan hal yang wajar ,apalagi dalam situasi globalisasi dan hancurnya komunisme (Sabarguna : 56). Dalam hal kompetisi yang dilakukan oleh Rumah Sakit dampaknya tidak dapat sama dengan usaha lainnya seperti hotel dan jasa lainnya hal tersebut dikarenakan posisi pasien sangat lemah yaitu (tidak tahu tentang jasa apa yang diberikan, ketidak sanggupan untuk menolak apa yang diberikan, hubungan antara dokter dan pasien seperti suasana aman yang diterima pasien) seperti yangdikemukakan oleh (Sulastomo, 1992)

Dalam mengembangkan sebuah Rumah Sakit maka seorang direktur maupun manajer Rumah Sakit harus mempunyai strategi pemasaran yang efektif dan efisien dalam menarik pasien dan dapat mengikuti perkembangan era globalisasi ini, karena Rumah Sakit merupakan organisasi nirlaba yang dikelola oleh lebih dari tiga macam jenis profesi yang kurang erat kaitan disiplin ilmunya antara dokter administrasi dan penyantun, pengelolaan ini sangat rumit karena kebutuhan dan misi Rumah Sakit, di satu pihak Rumah Sakit harus melayani sang pasien namun dilain pihak kegiatan oprasional yang pada dasarnya nirlaba ini harus mencapai titik surplus  tertentu agar jalanya Rumah Sakit dapat terjamin.

Sebuah Rumah Sakit  harus memperhitungkan berbagai segi untuk mencapai pasar dan mendapatkan pelanggan sesuai dengan daerah atau tempat dimana Rumah Sakit tersebut berdiri, seperti di Kota Klaten merupakan kota kecil dengan 26 kecamatan yang berpenduduk 1.293.242 juta jiwa yang mempunyai slogan Klaten Bersinar dan di Kota Klaten ini pada tiap tahunnya mengalami kenaikan baik dari kelahiran maupun dari adanya migrasi atau perpindahan penduduk dan menetap di kota Klaten dan lebih dari 75 % penduduknya merupakan penduduk dewasa, di kota klaten yang sejuk dan bertanah subur ini masyarakatnya tidak hanya menggunakan sebagai lahan pertanian saja sebagai pekerjaan sehari-hari masyarakatnya namun banyak pula yang bekerja diluar rumah seperti menjadi pedagang, karyawan swasta dan bahkan buruh, karena banyak pabrik – pabrik yang berdiri di Kota Klaten  dan banyak tempat – tempat wisata yang berada di Kota Klaten. (sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Klaten Tahun 2006) banyaknya kegiatan di luar rumah pada masyarakat Klaten menyebabkan  kesadaran masyarakat akan hidup sehat kurang.  Penduduk klaten tidak sedikit pula yang menduduki jabatan pegawai Pemerintah yang berpendidikan tinggi bahkan lebih dari 50% pegawai negeri Daerah Klaten adalah berpendidikan lanjutan atau perguruan tinggi (sumber: Civil Servant Bureu region Of klaten Regency) dengan jumlah kelahiran/ Natality tahun 2006 Adalah sebesar 11.701 dan Kematian/Mortality sebesar 8.034 baik laki-laki maupun perempuan, (sumber : BPS kabupaten Klaten ) dilihat dari berbagai segi tesebut maka warga Klaten pun lebih memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Negeri yang menurut mereka lebih murah biayanya dibandingkan dengan Rumah Sakit swasta karena dianggap Rumah Sakit swasta merupakan Rumah Sakit yang elit dan mahal ( hanya untuk kalangan menengah keatas ) dari segi pelayanan, meskipun sebenarnya tidak seperti itu, hal tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini yang menunjukkan kecilnya minat masyarakat untuk berobat ke Rumah Sakit swasta karena setiap tahunnya hanya mengalami sedikit peningkatan di bandingkan dengan kepadatan penduduk yang tiap tahun mengalami peningkatan yang cukup besar

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

PENGARUH KONSELING KELUARGA TERHADAP PERBAIKAN PERAN KELUARGA DALAM PENGELOLAAN ANGGOTA KELUARGA DENGAN DM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOKAP I KULON PROGO

5 Januari 2012

Afifin Sholihah

INTISARI

Diabetus mellitus bila tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain –lain. Dengan pengalaman yang baik yaitu kerjasama antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan, diharapkan komplikasi kronik dapat dicegah.

Tujuan Mempelajari dan membuktikan pengaruh kopnseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM

Penelitian dilakukan di Puskesmas Kokap I, pada bulan September – November 2007, dengan jumlah populasi 29, dengan tehnick total sampling dan karena ada yang tidak memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi akhirnya diperoleh 26 sampel pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM.

Hasil penelitian ada pengaruh yang sangat signifikan dengan selisih rerata 12.97 tantang  konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah kerja Puskesmas Kokap I tahun 2007.

 

Kata kunci : Konseling keluarga, perbaikan peran.

 

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda