Archive for Januari, 2013

h1

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENDERITA TBC DENGAN SUSPEC TBC PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS GONDANG KABUPATEN SRAGEN

15 Januari 2013

Hariyanto

 

ABSTRAKSI

 

Di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat 583.000 penderita TBC menular setiap tahunnya atau 15/100.000 penduduk dengan angka insiden 225.000 kasus pertahun. Sebagian besar penderita penyakit ini adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun, dan terbanyak adalah dewasa muda. Angka pada pria selalu cukup tinggi pada semua usia, tetapi pada wanita cenderung menurun tajam sesudah melewati usia subur. Faktor kemiskinan sangat berpengaruh terhadap kejadian TBC di masyarakat. Sejak tahun1964 WHO menetapkan bahwa diagnosa TBC bisa ditegakkan dengan ditemukannya Mycobacterium tubercolosis pada tiga kali pemeriksaan dahak yang setaraf dengan pembiakan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita TBC dengan Suspec TBC paru BTA positif di Puskesmas Gondang.

Penelitian ini merupakan explanatory research dengan metode survey wawancara dan pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan pendekatan cross sectional.

Dari 80 responden didapatkan 11 (13,8%) dengan BTA positif. Hasil analisis dengan uji chi square didapatkan x2 = 4,396; p = 0,036 (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara umur dengan TBC paru BTA positif.

Dengan chi square yang sama didapatkan x2 = 4,838; p = 0.028 (p<0,05) ada hubungan yang bermakna antarajenis kelamin dengan TBC paru BTA positif.

Dengan chi square yang sama didapatkan x2 = 17,265; p = 0.000 (p<0,05) ada hubungan yang bermakna antarajpendapatan keluarga dengan TBC paru BTA positif.

Upaya penemuan kasus TBC paru BTA positif secara dini akan mengurangi resiko penularan sehingga diperlukan upaya peningkatan penyuluhan atau sosialisasi tentang TBC paru pada masyarakat kelompok resiko.

Kata kunci :  TBC paru BTA positif, karakteristik suspec TBC, Puskesmas  Gondang.

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

Iklan
h1

PENGARUH DEMOGRAFI KOTA KLATEN TERHADAP TINGKAT KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT CAKRA HUSADA KLATEN TAHUN 2007

15 Januari 2013

SRI REJEKI

ABSTRAKSI

 

Pada era Globalisasi sekarang ini yang diikuti dengan kemajuan teknologi  semakin berkembang pula penyakit yang diderita oleh manusia dikarenakan oleh banyak faktor antara lain dipengaruhi oleh gaya hidup yang kurang sehat karena masyarakat sekarang memilih yang sifatnya instan, hal tersebut di dikarenakan  pula polusi yang sekarang ini semakin banyak baik polusi udara, air, tanah, dan, suara yang kurang dapat diminimalisir oleh manusia bahkan sekarang adanya Global warning yang semakin menakutkan yang menyebabkan sekarang ini umur harapan hidup di Indonesia semakin rendah, tapi tidak sedikit pula mereka yang sadar akan hidup sehat seperti pada orang-orang yang mulai menjaga pola makan dan menerapkan pola hidup bersih dan mulai menjaga lingkungan sekitarnya termasuk pula mereka yang rajin ke rumah sakit untuk sekedar tahu tentang kesehatannya (cek-up) karena menurut mereka sehat itu mahal jadi lebih baik mencegah dari pada mengobati seperti dalam Undang-undang RI nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan pada bab 1 ayat 1,  yang mengatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis, maka sekarang ini orang pun berusaha untuk mencari status ekonomi yang lebih tinggi guna mendapatkan status kesehatan yang lebih tinggi pula dengan cara  mengantisipasi sebelum terjadi sakit (preventive) .

Dan semakin bertambah pula keinginan manusia untuk mendapatkan kepuasan termasuk dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan apa yang orang tersebut inginkan, pada masa dahulu banyak orang berpikir Rumah Sakit adalah merupakan tempatnya orang yang sedang sakit dan tempat mendapatkan obat serta mencari kesembuhan saja tanpa melihat fasilitas dan pelayanan apa yang diberikan dari sebuah institusi Rumah Sakit, mereka hanya berpikir  kesembuhan dan tentunya hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan financial yang mereka miliki tanpa memperhitungkan kenyamanan bagi yang sakit maupun bagi keluarga yang menunggu, namun sekarang berbeda kebanyakan orang sudah mulai sadar akan manfaat Rumah Sakit sesungguhnya dan minat orang pun berubah, kini pelayanan serta fasilitas pun dipandang masyarakat untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mencari kesembuhan bagi orang yang status ekonominya menengah keatas guna mendapatkan kepuasan yang diinginkan.

Dan untuk mewujudkan tuntutan tersebut para pemilik, direktur serta para manajer Rumah Sakit berusaha untuk memperbaiki mutu kualitas layanan, fasilitas serta sumber daya manusia yang ada di Rumah Sakit tersebut dalam upaya mengikuti pasar yang ada saat ini, Pelaksaan manajemen di suatu Rumah Sakit termasuk juga pada bagian pemasaran harus secara jelas dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu, hal ini sesuai dengan kebutuhan yang terus berubah; bahwa tidak ada sesuatu hal pun yang dapat bertahan karena statis, apalagi era kemajuan informasi dan globalisasi telah merambah kesegala segi kehidupan  (Sabarguna 2004 : 78)

Berdasarkan PerMenKes No.4 Tahun 2000, RS Perjan yang berarti memperbolehkan pemilikan Rumah Sakit oleh badan hukum seperti PT atau CV, maka mulailah era bisnis dibidang Rumah Sakit yang ditandai dengan banyaknya Rumah Sakit swasta berdiri, dengan adanya hal tersebut maka kompetisi akan merupakan hal yang wajar ,apalagi dalam situasi globalisasi dan hancurnya komunisme (Sabarguna : 56). Dalam hal kompetisi yang dilakukan oleh Rumah Sakit dampaknya tidak dapat sama dengan usaha lainnya seperti hotel dan jasa lainnya hal tersebut dikarenakan posisi pasien sangat lemah yaitu (tidak tahu tentang jasa apa yang diberikan, ketidak sanggupan untuk menolak apa yang diberikan, hubungan antara dokter dan pasien seperti suasana aman yang diterima pasien) seperti yangdikemukakan oleh (Sulastomo, 1992)

Dalam mengembangkan sebuah Rumah Sakit maka seorang direktur maupun manajer Rumah Sakit harus mempunyai strategi pemasaran yang efektif dan efisien dalam menarik pasien dan dapat mengikuti perkembangan era globalisasi ini, karena Rumah Sakit merupakan organisasi nirlaba yang dikelola oleh lebih dari tiga macam jenis profesi yang kurang erat kaitan disiplin ilmunya antara dokter administrasi dan penyantun, pengelolaan ini sangat rumit karena kebutuhan dan misi Rumah Sakit, di satu pihak Rumah Sakit harus melayani sang pasien namun dilain pihak kegiatan oprasional yang pada dasarnya nirlaba ini harus mencapai titik surplus  tertentu agar jalanya Rumah Sakit dapat terjamin.

Sebuah Rumah Sakit  harus memperhitungkan berbagai segi untuk mencapai pasar dan mendapatkan pelanggan sesuai dengan daerah atau tempat dimana Rumah Sakit tersebut berdiri, seperti di Kota Klaten merupakan kota kecil dengan 26 kecamatan yang berpenduduk 1.293.242 juta jiwa yang mempunyai slogan Klaten Bersinar dan di Kota Klaten ini pada tiap tahunnya mengalami kenaikan baik dari kelahiran maupun dari adanya migrasi atau perpindahan penduduk dan menetap di kota Klaten dan lebih dari 75 % penduduknya merupakan penduduk dewasa, di kota klaten yang sejuk dan bertanah subur ini masyarakatnya tidak hanya menggunakan sebagai lahan pertanian saja sebagai pekerjaan sehari-hari masyarakatnya namun banyak pula yang bekerja diluar rumah seperti menjadi pedagang, karyawan swasta dan bahkan buruh, karena banyak pabrik – pabrik yang berdiri di Kota Klaten  dan banyak tempat – tempat wisata yang berada di Kota Klaten. (sumber: Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Klaten Tahun 2006) banyaknya kegiatan di luar rumah pada masyarakat Klaten menyebabkan  kesadaran masyarakat akan hidup sehat kurang.  Penduduk klaten tidak sedikit pula yang menduduki jabatan pegawai Pemerintah yang berpendidikan tinggi bahkan lebih dari 50% pegawai negeri Daerah Klaten adalah berpendidikan lanjutan atau perguruan tinggi (sumber: Civil Servant Bureu region Of klaten Regency) dengan jumlah kelahiran/ Natality tahun 2006 Adalah sebesar 11.701 dan Kematian/Mortality sebesar 8.034 baik laki-laki maupun perempuan, (sumber : BPS kabupaten Klaten ) dilihat dari berbagai segi tesebut maka warga Klaten pun lebih memilih untuk dirawat di Rumah Sakit Negeri yang menurut mereka lebih murah biayanya dibandingkan dengan Rumah Sakit swasta karena dianggap Rumah Sakit swasta merupakan Rumah Sakit yang elit dan mahal ( hanya untuk kalangan menengah keatas ) dari segi pelayanan, meskipun sebenarnya tidak seperti itu, hal tersebut dapat dilihat dari tabel dibawah ini yang menunjukkan kecilnya minat masyarakat untuk berobat ke Rumah Sakit swasta karena setiap tahunnya hanya mengalami sedikit peningkatan di bandingkan dengan kepadatan penduduk yang tiap tahun mengalami peningkatan yang cukup besar

Ingin mendapatkan lengkapnya hubungi : stikes_smart@ymail.com atau tinggalkan pesan Anda

h1

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DENGAN KEPATUHAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PLERET KECAMATAN PLERET KABUPATEN BANTUL TAHUN 2010

15 Januari 2013

INTISARI

Desyana Aisyah Prihandini

Menurut SKDI 2005 diperoleh data angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat melahirkan tercatat 307 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung yang berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Untuk meminimalisir hal tersebut, maka pemeriksaan kehamilan atau antenatal care sangat dibutuhkan. Di sisi lain, tercapainya target antenatal care tidak lepas dari peran ibu hamil itu sendiri. Pengetahuan ibu hamil mengenai antenatal care diharapkan akan mendorong ibu hamil untuk lebih patuh dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.
Diketahuinya hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang antenatal care dengan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Pleret, Bantul.
Penelitian dengan metode deskriptif analitik. Menggunakan pendekatan waktu cross sectional. Subjek penelitian adalah ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di wilayah kerja Puskesmas Pleret, Bantul. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Uji statistik menggunakan rumus Kendall’s Tau.
Menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang antenatal care dengan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Pleret, Bantul yang dibuktikan dengan hasil uji hipotesis dengan rumus Kendall’s Tau diketahui bahwa koefisien korelasi yang dihasilkan sebesar 0,402 pada signifikansi 0,023 dimana signifikansi tersebut lebih kecil dari 5% (sig. p 0,023<0,05).
Terdapat hubungan yang positif dan sangat bermakna sebesar 0,402 atau 40,2% antara tingkat pengetahuan ibu tentang antenatal care dengan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas Pleret, Bantul.

Kata Kunci : Pengetahuan, Atenatal Care, Kepatuhan Antenatal Care