h1

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KINERJA PETUGAS PELAKSANA FARMASI PUSKESMAS DI KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2008

4 Mei 2009

NENES GANEFI TRISMINENDAH

A. Latar belakang

Tujuan pembangunan kesehatan  dalam Sistem Kesehatan Nasional  adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional ( Dep.Kes RI, 1986 ).

  1. Untuk mencapai tujuan tersebut Rencana Pembangunan Kesehatan 2010 dituangkan dalam visi pembangunan kesehatan yang merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai yaitu masyarakat, bangsa dan Negara yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia. Gambaran tersebut dapat dicapai melalui pembangunan kesehatan yang dirumuskan sebagai   Indonesia Sehat 2010 (Dep.Kes RI, 1999).

Dalam mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi pembangunan kesehatan yaitu : (1) penggerak pembangunan nasional berwawasan kesehatan (2) memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau, (3) mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, (4) memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat.

Misi tersebut dapat tercapai melalui penerapan paradigma pembangunan kesehatan baru yaitu paradigma sehat yang merupakan upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan bangsa yang bersifat proaktif. Paradigma pembangunan kesehatan baru merupakan model pembangunan kesehatan dalam jangka panjang yaitu mampu mendorong masyarakat luas untuk bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif ( Dep.Kes RI, 1999 )

Pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif merupakan perwujudan dari paradigma sehat yang pada saat ini lebih banyak dapat dilaksanakan melalui Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) sebagai unit pelayanan terdepan  dan langsung dapat menjangkau masyarakat. Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan menyeluruh meliputi kuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif dan mempunyai 18 kegiatan pokok yg salah satunya adalah pelayanan farmasi / obat-obatan . (Dep.Kes RI, 1991)

Pelaksana farmasi sebagai salah satu profesi mempunyai kedudukan penting dan merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas maupun Rumah Sakit serta salah satu faktor yang dapat menentukan tercapainaya tujuan pembangunan kesehatan ( Depkes RI, 1982).

Disamping hal tersebut diatas, akibat perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi terutama dibaidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat berdampak pada : (1) Tuntutan terhadap profesi kesehatan untuk selalu mengembangkan diri mengikuti perubahan yang terjadi dilingkungannya, (2) Tuntutan dari masyarakat penerima jasa pelayanan untuk diberikan pelayanan yang dibutuhkan secara profesional.

Profesionalisme pelayanan Rumah Sakit dan Puskesmas yang dituntut oleh masyarakat penerima jasa pelayanan lebih diarahkan kepada tujuan dasar keberadaan mereka di rumah sakit atau Puskesmas yaitu : dapat sembuh dalam waktu yang relatif singkat, biaya yang dibutuhkan lebih ringan dan pelayanan yang mereka dapatkan dapat memuaskan pasien, keluarga dan kepuasan kerja bagi pemberi jasa pelayanan salah satunya adalah tenaga Asisten Apoteker atau petugas pelaksana farmasi.

Kepuasan kerja tenaga pelaksana farmasi puskesmas salah satunya dipengaruhi oleh hasil pelaksanaan kinerja petugas pelaksana farmasi itu sendiri yaitu mutu pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh petugas pelaksana farmasi puskesmas. Hasil penelitian Lamri, (1997) menunjukkan bahwa mutu pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap minat masyarakat menggunakan jasa rumah sakit. Makin baik mutu pelayanan kesehatan makin tinggi minat masyarakat menggunakan jasa rumah sakit.

Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan puskesmas adalah pelayanan kefarmasian / obat-obatan yang diberikan oleh tenaga pelaksana farmasi puskesmas. Kinerja petugas pelaksana farmasi yang baik dalam pelayanan farmasi / obat-obatan di puskesmas akan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan selanjutnya akan berpengaruh pada kepuasan klien / pasien.

Gibson (1986) mengatakan bahwa kinerja seseorang akan dipengaruhi oleh iklim kerja, rekan kerja, imbalan dan gaya kepemimpinan. Iklim kerja, rekan kerja yang baik  dan pemberian insentif yang baik serta gaya kepemimpinan yang baik akan meningkatkan kinerja seseorang yang berdampak pada mutu pelayanan. Mutu pelayanan kesehatan semakin baik maka akan semakin memikat dan menarik konsumen penerima jasa pelayanan khususnya kefarmasian. Dengan demikian diharapkan tingkat hunian pasien dirumah sakit atau di Puskesmas ditingkatkan dan semakin banyak konsumen pemakai jasa semakin tinggi pula pemasukan bagi rumah sakit atau puskesmas. Selanjutnya akan berefek kepada peningkatan kesejahteraan karyawan termasuk petugas pelaksana farmasi puskesmas.

Hasil kinerja kesehatan salah satunya dipengaruhi oleh sumber daya kesehatan dan ketersediaan sarana / prasarana dalam pelayanan kesehatan. Data sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Kebumen tahun 2007 menunjukkan bahwa  jumlah Puskesmas 35 buah terdiri dari 30 Puskesmas Rawat Jalan dan 5 Puskesmas Rawat Inap dengan jumlah tenaga pelaksana farmasi puskesmas total keseluruhan  sebanyak 35 orang, dengan latar belakang pendidikan 7 orang (20%) lulusan Sekolah Asisten Apoteker / Sekolah Menengah Farmasi , 12 orang (34,28% ) lulusan SMA + Pekarya Kesehatan, 5 orang (14,28 %) lulusan DIII Farmasi, DIII Keperawatan 3 orang (8,57%) dan 8 orang ( 22,86 % ) lulusan SLTP + Pekarya Kesehatan. Bila dilihat dari status kepegawaiannya  sejumlah 33 orang (94,28 % ) Pegawai Negeri Sipil dan 2 orang ( 5,71 % ) berstatus Pegawai Tidak Tetap Daerah  ( PTT Daerah ).

Faktor lain yang menyebabkan peningkatan dan penurunan jumlah kunjungan Puskesmas  adalah: pelayanan medis / dokter, pelayanan farmasi / obat-obatan, pelayanan administrasi, pelayanan kebersihan dan pelayanan makanan.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan penulis pada bulan Desember 2007 melalui wawancara dan pengamatan terhadap 10 orang petugas pelaksana farmasi dibeberapa puskesmas Kabupaten Kebumen sebagian besar petugas pelaksana farmasi puskesmas yang mempunyai latar belakang pendidikan non sekolah kefarmasian sering mengalami kesulitan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian puskesmas, kurang memahami tentang perencanaan kebutuhan obat puskesmas, disamping itu juga berdasarkan pengamatan sebagaian besar mengalami kesulitan dalam administrasi dan pelaporan. Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen ?

C.  Tujuan Penelitian

a.   Tujuan Umum :

Mengetahui faktor – faktor  yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi puskesmas di Kabupaten Kebumen.

  1. Tujuan Khusus :
    1. Mengetahui gambaran tentang pendidikan, pelatihan, supervisi, motivasi sistem kompensasi, kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.
    2. Mengetahui hubungan antara pendidikan petugas pelaksana farmasi puskesmas dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.
    3. Mengetahui hubungan antara pelatihan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen
    4. Mengetahui hubungan antara supervisi dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.
    5. Mengetahui hubungan antara motivasi dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.
    6. Mengetahui hubungan sistem kompensasi dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.

D.  Manfaat Penelitian :

  1. Bagi Penulis

Mendapatkan tambahan pengetahuan dan praktek dalam proses penelitian  tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas di Kabupaten Kebumen.

  1. Bagi Puskesmas .

Memberikan masukan tentang aspek kinerja  petugas pelaksana farmasi puskesmas  sehingga dapat dapat dipakai sebagai masukan dalam pembinaan  dan peningkatan kinerja pada petugas pelaksana farmasi di Puskesmas tersebut.

  1. Bagi   Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen

Memberikan masukan dalam melaksanakan pembinaan kinerja petugas pelaksana farmasi dan kepala Puskesmas tentang mutu pelayanan kesehatan dan peningkatan manajemen Puskesmas.

4.  Bagi Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKES SURYA GLOBAL

Memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan manajemen kesehatan dan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi peneliti berikutnya.

E.   Ruang Lingkup

1.  Lingkup Keilmuan

  1. Lingkup Sasaran

Sasaran penelitian adalah petugas pelaksana farmasi puskesmas di Kabupaten Kebumen.

  1. Lingkup Masalah

Masalah dibatasi pada faktor – faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi puskesmas di Kabupaten Kebumen.

  1. Lingkup Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dengan survei.

  1. Lingkup Lokasi

Lokasi Penelitian ini adalah puskesmas se Kabupaten Kebumen.

  1. Lingkup Waktu

Pelaksanaan pengumpulan data penelitian pada bulan  Januari 2008 sampai dengan Mei 2008

F. Keaslian Penelitian

Menurut penulis belum ada penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja petugas pelaksana farmasi Puskesmas. Ada beberapa penelitian sejenis antara lain :

  1. Martinus G, 2000, dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Dokter Gigi Puskesmas Perkotaan Kabupaten / Kota di Propinsi Irian Jaya. Penelitian ini berbeda dalam hal subyek penelitiannya dokter gigi Puskesmas sedangkan subyek penelitian ini subyeknya adalah petugas pelaksana farmasi Puskesmas dan metode yang dipakai dalam penelitian Martinus kuantitatif dan kualitatatif dengan fokus group discusion, pada penelitian ini dengan pendekatan kuantitatif.
  2. Rochmadi, 2003, dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kinerja Petugas Pelaksana Gizi Puskesmas Di Kabupaten Wonosobo. Perbedaan dengan penelitian ini disamping pada subyek dan tempat penelitian juga pada variabel penelitian. Pada penelitian Rochmadi variabel yang diteliti adalah pelatihan, motivasi, jenis tugas, rekan kerja dan kepemimpinan sedangkan pada penelitian ini variabel yang akan diteliti adalah pendidikan, pelatihan, motivasi, supervisi dan sistem kompensasi.

3 komentar

  1. mbak,,,bantuin saya dong


  2. pak/buk..gimana cara bisa membaca penelitian anda yang lengkap


  3. terima kasih, setelah membaca penelitian anda saya menjadi terbantu dalm menyekesaikan tugas akhir saya



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: